LAIN DUNIA

Hiii...3 Gadis yang Main Hujan-Hujan Itu Ternyata...

Foto: Repro Merapi

SETELAH hujan  mereda  di  senja  hari, udara malam menjadi sangat dingin dan terasa  menusuk  tulang.  Malam  itu  Pak Dede (bukan nama sebenarnya) bersama dua orang temannya sedang menjalankan ronda. Mestinya lima orang, tetapi karena udara sangat dingin, dua teman lainnya absen ronda. Bisa di- mengerti karena keduanya sama-sama mengidap penyakit   yang   tidak   ramah   dengan   udara malam. Yang satu sakit rematik, satunya kena bengek.

Meski hawa terasa dingin, ketiga orang itu ke- mudian  keliling  kampung  untuk  memunguti jimpitan. ”Aduh, gerimis lagi,” guman Pak Suwar (nama samaran) sambil menutupi kepalanya de- ngan sarung. Pak T atang (juga nama samaran) lalu mengajak pulang Pak Suwar dan Dede. ”Kita  pulang  saja,  yuk.  Mancal  kemul  di rumah,” ajaknya.

”Baru pukul dua belas Pak. Ronda kita kan sampai  menjelang  Subuh,”  kilah  Pak  Dede. Hujan ternyata tidak mereda malah semakin de- ras. Ketiga orang itu kebingungan. ”Kita berteduh di bawah pohon terembesi de- ngan jembatan itu dulu, yuk,” ajak pak Suwar.

Mereka  bertiga  lalu  berlari-lari  kecil  menuju jembatan. Welhaa! Pak Dede dan kedua temannya kaget karena di jembatan itu terlihat tiga orang gadis tampak sedang bermain-main.  Anehnya, mereka bermain hujan-hujanan. ”W uiiih, apa mereka tidak kedinginan, ya?” gu- man Pak Suwar. ”Kalau mereka masuk angin, trus kepriye?”

Mereka  bertiga  semakin  dekat  dengan  ketiga gadis itu. Ketiganya mengenakan baju putih yang tipis dan transparan. Pak Suwar yang paling mu- dah  mengulum  ludah,  glek!  Pak  Tatang  yang masih muda  terbengong-bengong. Ketiganya terlihat makin riang bermain di bawah lampu jembatan yang temaram.

Ketika dekat Pak Dede yang paling tua menya-pa ketiga gadis itu. ”Hei anak-anak, ayoh pulang. Kenapa  malam-malam  selarut  ini,  hujan  lagi masih bermain  di sini?  Ayoh pulang nanti badanmu sakit!”

Mereka  tidak  mempedulikan  teguran  Pak Dede.  Pak  Suwar  dan  Pak  Tatang  bertambahmelotot melihat tubuh gadis-gadis itu. Salah satunya  malah  lalu  berkata:  ”Ayoh  Pak,  bermain-main bersama kami”Pak Suwar dan Pak Tatang langsung terlibat dalam  permainan  gadis-gadis  itu.  Hanya  Pak

Dede yang bisa menahan diri. Tetapi sebagai lela-ki normal, kelihatannya tergoda juga.Ketiga  pria  itu  kemudian  hanyut  dalam  go-daan. Mereka bermain semakin gila-gilaan. Takada lagi kesopanan. Pak Suwar dan Pak Tatang sudah  melampaui  batas,  sementara  Pak  Dede tampak malu-malu kucing. Ketika Pak Suwar hampir pingsan, ketiga gadis itu tertawa. ”Hi hi hiiii, kapokmu kapan! Kami bukan cewek-cewek sembarangan Hi hi hiii!” Sambil tertawa begitu mereka kemudian melayang tinggi dan hilang di pucuk cemara. (*)

Repro dari kisah misteri Koran Merapi, Rabu (19/10).

Tulis Komentar Anda