Pendidikan Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 19 September 2016 / 21:44 WIB

Startup, Solusi Masalah di Masyarakat

SLEMAN (KRjogja.com) - Gerakan Nasional 1000 Startup Digital telah mencapai tahap ignition kedua pada Minggu (18/09/2016) di Yogyakarta. Gerakan tersebut merupakan sebuah movement yang dibentuk untuk mewujudkan Indonesia menjadi The Digital Energy of Asia di tahun 2020. 

Gerakan yang diinisiasi oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia ini akan mencetak 1000 startup yang diharapkan menjadi solusi atas berbagai masalah di Indonesia lewat pemanfaatan teknologi digital. Bekerjasama dengan KIBAR, peserta Gerakan Nasional 1000 Startup Digital akan mendapatkan peningkatan kapasitas, mentoring dan inkubasi di berbagai kota di Indonesia. 

Artikel Terkait : Menikmati Hidangan Mewah tapi Murah di Sumo Sushi

Pada ignition tahap kedua, seminar terbagi mejadi lima sesi dengan tema berbeda tiap sesinya. Di setiap sesinya peserta diberikan pengetahuan langsung dari para ahli yang terlebih dahulu menggeluti startup. Panelis yang hadir diantaranya yaitu Andri Yadi (CEO dycode, pencetus aplikasi Movreak dan jepret), Alamanda Shantika Santoso (Vice President of Technology Product Go-Jek), Leonika Sari (Chief Executive Reblood), Alfatih Timur (Chief Executive Officer Kitabisa.com), dan masih banyak pembicara lainnya. 

Andri dalam sesi pertama mengimbau peserta untuk membangun startup dengan sungguh-sungguh, tidak setengah-setengah atau hanya ingin mengikuti tren. Andri juga menambahkan bahwa Enterpreneurship merupakan cara hidup bukan semata-mata mencari kekayaan. "Jika tujuan kalian hanya memperkaya diri sendiri, kalian harus siap-siap kecewa,” ujar Andri. 

Senada dengan Andri, Reblood yang dirintis Leonika pun berawal dari problematika donor darah di Indonesia. Kebutuhan akan darah di berbagai wilayah di Indonesia sangat tinggi, akan tetapi ketersediaannya kurang dari cukup. Leonika mencontohkan di Kota Surabaya, sebagai daerah dengan pendonor daerah terbanyak di Indonesia, belum mampu untuk mencukupi kebutuhan darah di wilayahnya sendiri apalagi daerah lainnya. 

Leonika menambahkan jika dilakukan penghitungan maka setiap satu menit terdapat 10 orang yang membutuhkan darah, tetapi tiga diantaranya tidak mendapatkan darah. Berawal dari keresahan itu lah Leonika mendirikan Reblood, sebuah aplikasi yang dibentuk untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap donor darah di Indonesia.  "Mulai lah dari why untuk mencari solusi pemecahan terhadap suatu masalah yang ada, bukan what,” papar Leonika. (*)