Solo

KASUS SRIWEDARI BERKEMBANG

Pembangunan Musium di Tanah Sengketa


Yon Haryono | Sabtu, 14 September 2013 | 08:35 WIB | Dibaca: 326 | Komentar: 0

ilustrasi

SOLO (KRjogja.com)- Kasus sengketa tanah Sriwedari belum usai, namun telah dimulai pembangunan Mu seum Keris, menjadikan pemenang gugatan tanah Sriwedari HM Jaril protes ke Pemerintah Kota (Pemkot) Kota Solo. “Karena lahan tersebut masih sengketa, saya harap pemkot Solo jangan melakukan pembangunan apapun, karena terus terang saya khawatir, hal itu nanti akan bisa menuju ke ranah pidana,” ujar Jaril kepada wartawan di Solo.

HM Jaril berharap pihak Pemkot Solo  menghentikan pembangunan proyek renovasi Museum Keris yang berada di komplek tanah Sriwedari, lantaran  tanah tersebut diketahui sampai saat ini masih menjadi lahan sengketa antara ahli waris dengan  HM
Jaril.

Diharapkan HM Jaril, kepada ahli waris untuk mentaati dan mematuhi segala keputusan dalam persidangan, guna melakukan proses pelepasan hak tanah persil  RVE Vervonding Nomor : 295 Sriwedari kota Solo, kurang lebih 99.889 m2 dengan harga Rp 27.2 miliar, sebagai mana Surat perjanjian dalam akta notaris No.03  tanggal 3 Maret 2006 yang dibuat oleh dan dihadapan 12
tergugat, sejak keputusan perkara ini berkekuatan hukum tetap atau telah (<I>inkrach<I>) di Pengadilan Negeri (PN) Solo.

Penasehat Hukum (PH) Pemkot Solo Suharsono, saat dihubungi  wartawan  terkait masalah Sriwedari  mengatakan, bahwa himbauan dan permintaan yang disampaikan oleh Jaril tersebut tidak ada dasar hukumnya. Permasalahan sengketa itu tidak ada hubunganya dengan pemkot Solo. Permasalahan sengketa itu yakni antara Jaril dan Pihak ahliwaris.“Jadi ya tidak ada hubungannya dengan pemkot, dan status pemegang hak untuk Sriwedari itu masih pemkot Solo,” jelas Suharsono.-(Hwa).