Kota Yogyakarta

Gunungkidul Tertinggi Potensi Konflik


Agus Sigit | Selasa, 27 Agustus 2013 | 00:14 WIB | Dibaca: 1064 | Komentar: 0

YOGYA (KRjogja.com) - Wilayah Gunungkidul ternyata tertinggi berpotensi konflik, di wilayah DIY. Hal tersebut berdasar hasil penelitian Magister Politik dan Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Hal tersebut mengemuka, dalam diskusi mengenai pemetaan jenis dan sumber konflik di Yogyakarta, di Ruang Sambisari Holet Inna Garuda, Senin (26/8). Acara tersebut diadakan oleh� Badan Kesatuan Bangsa (Kesbanglinmas) DIY.

Dalam acara tersebut tampil 3 pembicara, Pemimpin Redaksi SKH Kedaulatan Rakyat Drs Octo Lampito MPd, Ketua Tim Peneliti Peta Konflik Dr Suwardono dan Wakil Direktur Intelkam Polda DIY AKBP Nanang JM SIK.

Dr Surwandono sebagai ketua tim penelitian dari bulan Juni sampai Juli 2013 menungkapkan tingginya agregat potensi konflik Gunungkidul, diukur, diantaranya Sara, perbatasan, pertanahan, industrial dan terorisme. Penyebab konflik pertanahan di daerah Gunung Kidul disebakan oleh status legal tanah yang tidak jelas, pembagian warisan, kompensasi yang tidak memuaskan, Perebutan tanah sakral dan masih banyak yang lainnya.

Sementara AKBP Nanang JM menyatakan, untuk menangani potensi konflik, pihaknya akan melakukan koordinasi dengan Polsek, yang tersebar di Yogya dan pemerintah 5 kabupaten kota. Sementara, Octo Lampito menyatakan, bahwa media bisa bermakna pisau bermata dua. Media bisa menjadi pemadam konflik, atau justru menjadi pemicu. Karena itu, melihat potensi tersebut perlu beberapa strategi. Misalnya, perlunya media dilibatkan untuk mediasi yang betikai.

Pemred KR tersebut melihat, DIY punya 'Social capital' kebersamaan yang bagus. Kultur budaya Jawa 'guyub rukun' atau 'ayem tentrem' dari berbagai elemen masyarakat, bisa menjadi modal untuk mengatasi konflik.

Diskusi tersebut dihadiri juga sejumlah tokoh masyarakat, termasuk ketua Forum Persaudaraan iman beriman KH Abdul Muhaimin, Ketua Umum MUI Toha Abdurahman, Budi Satyagraha dari PITI, serta elemen masyarakat budaya lainnya. (*-6)