Kota Yogyakarta

Video CCTV Penganiayaan Hugos Diputar di Persidangan


Ivan Aditya | Rabu, 14 Agustus 2013 | 12:19 WIB | Dibaca: 1071 | Komentar: 0

Pemutaran CCTV. (Foto : Deny Hermawan)

YOGYA (KRjogja.com) - Setelah dibacakan pledoi panjang oleh tim kuasa hukum tiga terdakwa anggota Kopasus, video kedua yang disiapkan tim kuasa hukum terdakwa berupa rekaman CCTV kejadian penganiayaan terhadap Serka Heru Santoso di Hugos Cafe akhirnya diputar di persidangan, Rabu (14/08/2013). Video berdurasi hampir satu menit yang sudah diedit itu mengungkap kejadian penusukan dan bentuk penganiayaan lain terhadap korban.

Video hasil editan itu telah diberi tambahan teks, nama-nama pelaku penganiayaan. Dalam video juga terlihat jelas kejadian penusukan oleh Deki, hingga penganiayaan selanjutnya yang mengakibatkan Serka Heru Santoso meninggal.

Kuasa Hukum terdakwa Kolonel Rokhmat menegaskan, dalam sidang sebelumnya Oditur kesulitan menguraikan unsur-unsur tindak pidana. Terdakwa tidak pernah melakukan kejahatan sesuai yang didakwakan kepadanya. Oditur Militer menurutnya juga tidak bisa menguraikan, perintah mana dari atasan yang tidak ditaati oleh para terdakwa anggota Kopasus. "Karena itu dakwaan kedua dari oditur harus dinyatakan batal demi hukum," tegasnya.

Ia menegaskan pula, semua uraian oditur mengenai unsur suatu kebersamaan dalam melakukan perbuatan melanggar hukum tidak terbukti. Eksekusi hanya dilakukan oleh Serda Ucok yang dilakukan dengan tidak matang karena memakai senjata dengan daya tembak sampai 15 meter di ruang sel yang sempit sehingga dapat membahayakan dirinya sendiri.

"Apa yang dilakukan terdakwa sesuai dengan harapan masyarakat. Tidak ada yang mencela sehingga tidak memalukan institusi TNI," tegasnya.

Karena itu ia memohon agar majelis hakim memutuskan agar para terdakwa tidak terbukti sah melakukan tindak pidana. Pasalnya tidak ada alat buktipun yang membuktikan bahwa terdakwa dua dan tiga adalah pelaku peserta. Terdakwa satu (Serda Ucok) bisa dinyatakan melakukan tindakan menghilangkan nyawa orang lain, namun ada alasan pemaafnya sehingga tidak perlu dijatuhi hukuman.

"Berdasarkan hal tersebut kami memohon majelis hakim untuk menerima permohonan kami sesuai rasa keadilan bagi terdakwa dan bagi masyarakat," tukasnya. (Den)