Bening Hati

Hikmah Diturunkannya Alquran Berangsur-angsur


Ahmad Lutfie | Rabu, 17 Juli 2013 | 02:01 WIB | Dibaca: 2409 | Komentar: 0

Prof Dr Yunahar Ilyas Lc. (Foto: Istimewa)

KITAB suci Alquran diturunkan Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW secara berangsur-angsur dalam dua priode, Makkah dan Madinah. Periode Makkah dimulai pada malam 17 Ramadan tahun 41 dari Milad Nabi sampai 1 Rabi' al-Awwal tahun 54 dari Milad Nabi (12 tahun 5 bulan 13 hari).

Sedang priode Madinah dimulai tanggal 1 Rabi' al-Awwal tahun 54 sampai 9 Dzulhijjah tahun 63 dari Milad Nabi, atau bertepatan tahun ke-10 dari Hijrah (9 tahun 9 bulan 9 hari). Jadi total lama kedua priode tersebut adalah 22 tahun 2 bulan dan 22 hari.

Alquran diturunkan secara bertahap untuk menguatkan hati Nabi dalam menerima dan menyampaikan kalam Allah kepada umat manusia. Dengan seringnya menerima wahyu, hati Nabi juga kian kuat menghadapi celaan dan tantangan orang-orang kafir.

Di samping memantapkan hati Nabi, turunnya Alquran secara berangsur-angsur juga merupakan mukjizat bagi beliau, untuk menjawab dan mematahkan tantangan orang-orang kafir. Sering mereka mengajukan pertanyaan-pertanyaan dengan maksud melemahkan dan menantang, juga untuk menguji kenabian Rasulullah. Mereka pernah menanyakan tentang kiamat kapan datangnya, menanyakan tentang Zul Qarnain, dan juga pernah menantang Nabi untuk menurunkan azab dan sebagainya, maka turunlah ayat menjawabnya.

Turunnya Alquran secara berangsur-angsur juga memudahkan Nabi untuk membacakannya kepada umat, menjelaskan dan memberikan contoh-contoh pelaksanaannya. Bayangkan jika Alquran diturunkan sekaligus, tentu akan memberatkan Nabi jika harus membacakan dan menjelaskannya sekaligus, mengingat betapa banyaknya ayat dengan segala pelajaran, petunjuk dan hukum yang terkandung di dalamnya.

Bagi umat Islam sendiri, diturunkannya Alquran secara berangsur-angsur (munajjaman) memudahkan mereka untuk menghafal, mencatat, dan memahami. Bisa dibayangkan, alangkah sukarnya -dengan sarana tulis menulis yang sangat terbatas- menghafal dan mencatat sekaligus enam ribu lebih ayat Alquran. Lebih dari itu, selain membebaskan umat dari kesulitan teknis menghafal dan mencatat, dengan diturunkannya secara berangsur-angsur, umat lebih mudah memahami dan menghayatinya karena Alquran turun menjawab pertanyaan-pertanyaan yang muncul dan merespons peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nyata, sehingga Alquran betul-betul dapat berfungsi menjadi petunjuk kehidupan.

Turunnya Alquran secara berangsung-angsur sangat besar pengaruhnya dalam proses dakwah Islam dan pembentukan umat. Pada periode Makkah diturunkan lebih dahulu ayat-ayat yang berhubungan dengan tauhid dan keadilan sosial. Barulah pada priode Madinah diturunkan ayat-ayat tentang hukum dalam berbagai aspek kehidupan, baik hukum keluarga, tentang harta benda, pidana dan pemerintahan. Ayat-ayat tentang hukum pun diturunkan secara bertahap sesuai kondisi masyarakat waktu itu, seperti tahapan penurunan ayat tentang riba dan khamar. (Disarikan dari buku penulis Kuliah Ulumul Qur'an, 2013)

Marilah pada setiap langkah dan tahapan kehidupan, kita jadikan Alquran sebagai pedoman. Alquran akan menyinari jalan dan membimbing kita sampai ke akhir perjalanan dengan selamat.

Prof Dr Yunahar Ilyas Lc, Ketua PP Muhammadiyah dan guru besar Fakultas Agama Islam UMY.

(Sebagaimana dimuat di Rubrik Hikmah Ramadan SKH Kedaulatan Rakyat edisi Rabu 17 Juli 2013.