Sleman

Antara Ritual dan Seks di Makam Roro Mendut


Ivan Aditya | Selasa, 9 Juli 2013 | 00:01 WIB | Dibaca: 22006 | Komentar: 8

Makam Roro Mendut dan Pronocitro, tempat ritual para pengelab berkah. (Foto : Ivan Aditya)

TEMPAT ini berupa sebuah makam keramat yang terletak di sebelah timur Kota Yogyakarta, tepatnya di wilayah Dusun Gandu, Sendangtirto, Berbah, Sleman. Saking tuanya makam ini, bahkan sebelum Yogyakarta terbentuk, makam ini telah lama berdiam di kawasan pedesaan itu.

Kuburan ini cukup dikenal oleh warga, apalagi mereka yang berasal dari Jawa, lantaran di sinilah tempat dimakamkannya jasad Roro Mendut dan Pronocitro, sebuah legenda kisah nyata cerita cinta sejati yang pernah hidup di tanah Jawa layaknya legenda bangsa Eropa tentang Romeo dan Juliet. “Makam tersebut memang benar makam Roro Mendut, cerita hidup yang dahulu memang pernah ada di tanah Jawa ini,” terang Rubiyo (61) sesepuh warga kampung Gandu.

Diungkapkan Rubiyo, cerita cinta dua anak manusia tersebut terjadi sekitar abad ke-17 atau kurang lebih pada tahun 1600-an, ketika jaman Kesultanan Mataram atau embrio dari Keraton Yogyakarta masih berkuasa dibawah pimpinan Sultan Agung Hanyokrokusumo, raja pertamanya. Pada masa itu, Kraton Mataram merupakan kerajaan yang menguasai hampir seluruh wilayah tanah Jawa.

Guna memperluas wilayahnya, daerah-daerah di pesisir utara Jawa pun dirambah, salah satu wilayah yang ingin dikuasai oleh Mataram saat itu yakni Kadipaten Pesantenan yang kini bernama Kabupaten Pati, masuk ke dalam wilayah Propinsi Jawa Tengah. Dalam tugas tersebut, Sultan Agung mengutus salah satu panglima tangguh Kerajaan Mataram berpangkat Tumenggung yang bernama Wiroguno untuk berangkat berperang menguasai Kadipaten Pati.

Kadipaten Pesantenan alias Kadipaten Pati ini bukanlah wilayah yang memiliki kekuatan perang yang tangguh, tak butuh waktu lama bagi Tumenggung Wiroguno untuk menguasainya. Tidak sampai hitungan minggu, wilayah kecil ini berhasil dikuasai Wiroguno dan pasukannya.

Sebagai tanda takluknya kadipaten tersebut terhadap Keraton Mataram, Adipati Pati menyerahkan upeti harta benda kepada keraton Mataram, berikut juga menyerahkan puteri angkatnya yang cantik jelita bernama Roro Mendut. Roro Mendut merupakan seorang gadis kelahiran Desa Trembagi, Pati yang sudah sejak kecil diasuh oleh adipati di lingkungan kerajaan.

Diboyonglah Roro Mendut ke Mataram dan harta benda jarahan yang lainnya. Di Mataram, Roro Mendut tinggal di lingkungan keraton. Rencananya, gadis cantik ini akan dipersunting sendiri oleh Wiroguno jika usia Roro Mendut telah matang nantinya.

Namun hasrat Sang Tumenggung bertepuk sebelah tangan, Roro Mendut enggan dipersunting oleh Wiroguno, lantaran ia sebenarnya telah memiliki kekasih bernama Pronocitro, pemuda tampan dari daerah asalnya sana. Diam-diam Pronocitro pun menyusul Roro Mendut, berangkatlah pemuda ini dari Pati ke bumi Mataram. Di Mataram, Pronocitro menyamar menjadi seorang pekatik atau yang dalam bahasa Jawa berarti pekerja perawat kuda-kuda prajurit.

Mendengar kalau Pronocitro mengikutinya ke Mataram akhirnya Roro Mendut meminta kepada Wriguno untuk diperbolehkan hidup di luar lingkungan keraton yang selama itu membelenggunya. Dipilihlah daerah Sendangtirto, Berbah yang berjarak sekitar 25 km sebelah timur Kraton Mataram, agar dirinya tetap bisa selalu bertemu dengan kekasihnya tanpa diketahui pihak istana.

Selama di pengasingannya, Roro Mendut tidak pernah di rawat oleh Wiroguno. Untuk menyambung hidupnya, gadis cantik ini terus bertahan dengan cara berjualan rokok lintingan, yaitu rokok yang dibuat secara tradisional dari gulungan kertas diisi dengan tembakau.

Kala itu, rokok yang dipasarkan Roro Mendut sangat laris manis di kalangan prajurit Mataram, lantaran kertas rokok-rokok tersebut dalam proses akhir penggulungannya, selalu direkatkan dengan cara dijilat terlebih dahulu menggunakan lidah Roro Mendut yang sangat cantik dan menggoda tersebut. Tak hanya itu, kepada setiap pembelinya, Roro Mendut selalu yang pertama kali menghidupkan rokok tersebut. Artinya, Roro Mendut lah yang menyulutkan api sekaligus yang pertama menghisapkan rokok tersebut untuk sang pembeli. Rokok bekas sedotan gadis muda ini konon akan lebih manis dan nikmat rasanya ketika dihisap.

Cukup lama Roro Mendut menjalin hubungan cinta sembunyi-sembunyi dengan Pronocitro melalui cara penyemaran seperti itu. Namun akhirnya, perjalanan cinta kedua muda-mudi inipun terendus juga oleh Wiroguno. Pada suatu hari, Tumenggung Wiroguno berhasil menangkap basah sejoli ini sedang berduaan.

Wiroguno naik pitam melihat kejadian tersebut. Langsung dicabutlah keris pusaka miliknya dan menghujamkannya ke tubuh Pronocitro. Pasangan yang sedang bermadu kasih ini pun terkejut. Melihat Pronocitro yang diserang, segeralah Roro Mendut membalikkan badannya seolah menutupi dan menjadi perisai tubuh kekasihnya itu.

Keris Wiroguno akhirnya menusuk punggung Roro Mendut. Namun sayang, keris itupun juga akhirnya tembus sampai menusuk ke dada Pronocitro, tewaslah sepasang kekasih ini secara bersamaan. Roro Mendut tewas ketika memeluk kekasihnya, Pronocitro.

“Roro Mendut dan Pronocitro dikuburkan dalam satu kuburan. Jadi, di kuburan tersebut dimakamkan dua jasad sekaligus,” ungkap Rubiyo.

Akhirnya, sepasang kekasih ini pun dimakamkan di tempat dimana kejadian tragis itu terjadi. Keduanya pun dimakamkan dalam satu liang lahat, masih dalam keadaan saling berpelukan erat.

Pedagang yang Ingin Sukses

“Dulu, makam Roro Mendut dan Pronocitro ini ada juru kuncinya. Namun sekarang sudah tidak ada lagi, karena juru kuncinya telah meninggal. Jadi makam tersebut sudah tidak ada yang merawat dan menjaganya,” kata ayah tiga orang anak ini.

Makam Roro Mendut dan Pronocitro ini kini terketak di sebuah kebun warga yang tidak terawat. Dibuatlah sebuah rumah kecil, yang dalam bahasa Jawa disebut cungkup. Di bangunan cungkup berukuran sekitar 4 x 5 meter tersebut di dalamnya berisi pusara Roro Mendut dan Pronocitro.

Nisan tempat dimakamkan jasad kedua insan ini tidak terbuat dari batu seperti nisan pada umumnya, malainkan hanya sederhana saja terbuat dari kayu setinggi kurang lebih setengah meter, di sekitar nisan tersebut ditutupi oleh kain kafan berwarna putih. Diterangkan oleh Rubiyo, makam Roro Mendut dan Pronocitro ini dulu banyak dikunjungi warga yang ingin mengalab berkah di hadapan pusara keduanya.

Walau pada hari biasa kuburan tua ini sering dikunjungi orang, namun pada hari tertentu yakni pada malam Jumat Kliwon atau pada malam Selasa Kliwon makam ini lebih ramai dikunjungi orang. “Kedua hari inilah yang banyak dipilih orang untuk melakukan ritual dan diyakini akan membuat terkabul semua permintaan,” lanjutnya.

Dari sekian banyak permintaan, kebanyakan dari para pengalab berkah yang datang ke makam ini adalah mereka yang berprofesi sebagai padagang yang ingin bisnis serta dagangannya diberikan kelancaran. Hal ini diyakini, karana semasa hidup, Roro Mendut adalah merupakan seorang pedagang rokok yang sukses. Jadi, tuah makam Roro Mendut ini dipercaya sangat membantu mendatangkan berkah pula bagi mereka yang berprofesi sebagai pedagang.

“Banyak yang telah sukses dengan melakukan ritual di makam ini. Yang datang tak hanya warga dari wilayah sini saja, bahkan orang-orang dari daerah yang jauh pada datang ke makam Roro Mendut ini, ingin supaya permohonannya terkabul,” terang kekek seorang cucu ini.

Ngeseks di Kuburan

Ada serangkaian prosesi yang kudu dilakoni para peritual yang ingin mengalab berkah di makam Roro Mendut dan Pronocitro ini agar permohonan nantinya bisa terkabul. Agar proses ritual menjadi sempurna, siapapun orangnya yang melakukan kegiatan spiritual di makam tersebut disarankan untuk melakukan serangkaian ritual sebanyak 3 kali, bisa 3 hari berturut-turut atau bisa pula dihari yang berbeda, yang penting jumlah ritualnya genap sebanyak 3 kali.

Peritual harus membawa sesajen berupa kembang setaman dan dupa atau pula kemenyan. Selain itu, peritual juga harus menyediakan pula bedak dan rokok untuk sesajen, karena perlengkapan inilah yang dulu sering dibawa Roro Mendut ketika berjualan rokok semasa hidupnya.

Setelah itu, barulah dupa dan kemenyan tersebut dibakar. Sambil meletakan sesajen berikut bedak dan rokok tersebut di dekat pusara nisan kayu itu, tak lupa kemudian peritual memanjatkan permohonan yang diharapkannya.

Setelah doa dan permohonan dipanjatkan di hadapan pusara Roro Mendut dan Pronocitro, para pengalab berkah ini harus melakukan prosesi ritual mengelilingi kompleks luar makam. Perjalanan mengelilingi makam ini cukup dilakukan sekali putaran saja. Gerak putaran mengelilingi makam ini harus berlawanan arah dengan putaran jarum jam alias bergerak mengitari dengan putaran ke kiri.

Ada hal mistis nan erotis yang harus dilakukan setiap peritual sebagai tahap terakhir menyempurnakan serangkaian ritual permohonan di makam ini. Setelah mengelilingi makam, para pengalab berkah diwajibkan melakukan persetubuhan alias melakukan hubungan seksual antara pria dan wanita. “Memang, kegiatan berhubungan badan di makam tersebut telah berlangsung sejak lama. Yang datang memohon ke makam tersebut pasti datang secara berpasang-pasangan,” tambahnya.

Persetubuhan diakhir ritual ini dimaknakan sebagai simbol penyatuan jiwa dan cinta antara dua insan manusia, seperti halnya cinta Roro Mendut dan Pronocitro yang dibawa sampai mereka berdua mati. “Dalam melakukan hubungan badan di makam Roro Mendut tersebut bisa dilakukan di luar kompleks, atau di dalam cungkup itu. Yang penting harus melakukan hubungan badan seperti suami istri,” beber Rubiyo.

Namun diyakini, agar permohonannya menjadi makbul, persetubuhan yang dilakukan tersebut haruslah hubungan seks antar muhrim. Artinya, hubungan seksual tersebut haruslah hubungan badan antara suami atau istri yang sah, bukan dengan yang lainnya.

Peritual yang permohonannya terkabulkan, setelah melakukan serangkaian ritual di makam Roro Mendut dan Pronocitro dalam mimpinya akan didatangi oleh sesosok perempuan cantik, dialah Roro Mendut. Setelah itu bisa dirasakan akan terjadi kelancaran dan laris dalam usaha dagang yang digelutinya. (Ivan Aditya)