Internasional

Masjidil Haram Direnovasi, Tempat Thawaf Sempit


Ahmad Lutfie | Selasa, 18 Juni 2013 | 00:27 WIB | Dibaca: 2940 | Komentar: 0

Kondisi sekitar Ka'bah saat ini. Tempat thawaf tinggal sempit. (Foto: Repro TV)

KEBIJAKAN Pemerintah Arab Saudi mengurangi kuota jamaah haji 20 % untuk tiap negara dan 50 persen untuk jamaah dalam negeri memang menyentak banyak pihak, khususnya para calon haji 2013, lebih-lebih yang sudah melunasi Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH). Banyak juga yang tampak 'tidak terima' dan mendesak pemerintah RI melobi Arab Saudi agar membatalkan pengurangan tersebut.

Namun kalau melihat kondisi Masjidil Haram saat ini, kebijakan tersebut cukup logis untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimana tidak? Masjidil Haram sedang direnovasi besar-besaran dan sampai saat ini belum rampung, bahkan kemungkinan besar pada musim haji nanti juga belum selesai. Dengan begitu tempat thawafnya (<I>mathaf<P>) menjadi sempit, hanya di sekitar Ka'bah.

Dengan dilakukannya renovasi, kapasitas daya tampung tempat thawaf yang semula 48.000 orang dalam satu jam, menjadi 22.000. Kalau dipakai jamaah melebihi daya tampung, maka rentan terjadi tragedi terinjak-injak.

Sebagaimana sering ditayangkan di saluran televisi "Saudi Quran", yang disiarkan melalui satelit ke seluruh penjuru dunia 24 jam nonstop, renovasi dilakukan di sisi timur Ka'bah hingga tempat sa'i. Seluruh bangunan antara Maqam Ibrahim sampai Mas'a dari selatan sampai utara dibongkar total, kemudian didirikan bangunan baru yang hingga saat ini belum selesai.

Dengan begitu, praktis lantai II dan III tidak bisa lagi digunakan untuk thawaf, karena tidak nyambung. Padahal keberadaan dua lantai ini cukup mengurangi kepadatan thawaf di pelataran sekitar Ka'bah. Di lantai II dan III ini pula jamaah yang menggunakan kursi dorong melakukan thawaf.

Lantas kalau di kedua lantai atas tidak bisa digunakan untuk thawaf, otomatis yang jalan kaki maupun yang berkursi roda sama-sama thawaf menyatu di lantai dasar. Padahal karena sedang direnovasi, tidak semua pelataran sekitar Ka'bah bisa digunakan untuk thawaf, karena bagian timur terkena renovasi. Artinya, tempat thawaf tinggal sempit.

Karena itu bisa dibayangkan bagaimana kroditnya pelaksanaan thawaf saat musim haji nanti, kalau renovasi belum selesai. Apalagi saat thawaf ifadhah, karena waktunya hampir bersamaan, bahkan ada yang harus segera ifadhah karena keburu mau pulang (jamaah kloter awal) atau segera meninggalkan Makkah menuju Madinah (jamaah gelombang II awal).

Dalam keadaan normal saja, misalnya musim haji tahun-tahun lalu di mana pelataran sekitar Ka'bah cukup luas ditambah lantai II dan III bisa untuk Thawaf, saat thawaf di sekitar Ka'bah cukup berdesak-desakan, bahkan sering terjadi aksi dorong. Apalagi nanti ketika lokasi thawaf hanya sekitar Ka'bah, maka desak-desakan pasti tak terhindarkan. Bagi yang tidak sabar berjalan '<I>nggremet<P>, mungkin akan mendorong depannya. Kalau aksi dorong tak terhindarkan bisa jadi akan ada yang jatuh bahkan mungkin terinjak-injak. Belum lagi kalau ada yang kakinya kesruduk kursi dorong, tak mustahil akan marah, karena cukup sakit, dan tentu pelaksanaan thawaf akan terganggu.

Kepadatan dan desak-desakan kemungkinan tidak hanya terjadi saat thawaf, tetapi juga di jalan menuju tempat Sa'i, karena hanya sempit. Dengan begitu pelaksanaan ibadah menjadi kurang nyaman, bahkan bagi para lansia sangat rawan.

Karena itu, Arab Saudi menyerukan jamaah agar menunda rencana menunaikan haji pada tahun ini. Imbauan tersebut selalu ditayangkan dalam <I>running text<P> berbahasa Arab yang disiarkan saluran televisi 'Saudi Quran' langsung dari Masjidil Haram.

Imam Besar Masjidil Haram, Sheikh Abdul Aziz Ash-Sheikh, mendukung kebijakan tersebut dan menilai hal itu dilakukan demi kepentingan jamaah. Menurut jumlah resmi, 3,161 juta orang menunaikan ibadah haji pada tahun 2012 lalu. Namun, jumlahnya mencapai empat juta jika termasuk jamaah haji tidak resmi. (Fie)