Kota Yogyakarta

Perdalam Etika Berlalu Lintas Lewat Pendidikan


Ivan Aditya | Sabtu, 27 April 2013 | 11:36 WIB | Dibaca: 735 | Komentar: 1

Ilustrasi. (Foto : Dok)

YOGYA (KRjogja.com) - Sejak tahun 2010 lalu, kurikulum etika berlalu lintas mulai diterapkan di Kota Yogyakarta. Kini seiring dengan penerapan kurikulum 2013, Yayasan Astra Honda Motor menggandeng Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta menggelar kajian sekaligus penyelarasan kurikulum.

Menurut Wakil Ketua Yayasan Astra Honda Motor sekaligus General Manager Corporate Communication, Kristanto, Yogyakarta merupakan pioner penerapan kurikulum etika berlalu lintas. "Dari Yogyakarta, kini kurikulum itu sudah diadopsi oleh 20 provinsi yang ada di Indonesia," ungkapnya di sela Kajian Pelaksanaan Pendidikan Etika Berlalulintas dalam Kurikulum 2013 yang digelar di Edotel Jalan Gayam Yogyakarta, Sabtu (27/04/2013).

Kristanto menambahkan, komitmen Yogyakarta dalam menerapkan kurikulum etika lalu lintas ini sangat tinggi. Hal itu dibuktikan dengan penerbitan regulasi berupa Peraturan Gubernur DIY Nomor 54/2011 dan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 40/2012. Regulasi tersebut menjadi pedoman bagi sekolah untuk menerapkan kurikulum dalam pembelajaran. "Membangun etika ini hanya bisa melalui pendidikan," tambahnya.

Penerapan kurikulum tersebut didorong oleh tingginya angka kecelakaan lalu lintas oleh pengendara motor. Bahkan, secara nasional tiap jam terdapat 3 orang meninggal dunia akibat kecelakan. Sedangkan 60 persen korban meninggal tersebut berasal dari usia produktif.

Tim Pengembang Kurikulum Etika Lalu Lintas, Erni Februaria menambahkan, dalam penerapannya tidak perlu menambah materi baru. Melainkan disisipkan dalam materi pelajaran yang sudah ada. Antara lain Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), Pendidikan Kewarganegaraan (PKn) maupun Fisika. "Jadi, sekolah dan guru tidak terbebani. Tinggal menyisipkan berbagai pengetahuan etika berlalu lintas dalam pembelajarannya," terangnya.

Sementara Kepala Dinas Pendidikan Kota Yogyakarta, Edy Heri Suasana mengatakan, tujuan utama kurikulum ini ialah untuk membangun karakter kepada anak didik. Misal ketika anak usia SD diantar orang tuanya dengan sepeda motor, maka anak tersebut dengan sadar akan meminta helm. Begitu juga saat orang tuanya tidak sengaja melanggar marka, anaknya pun bisa mengingatkan. (R-9)