Kota Yogyakarta

Pembunuhan Serka Santoso dan Pengroyokan Sertu Sriyono Beda Kasus


Ivan Aditya | Jumat, 5 April 2013 | 22:17 WIB | Dibaca: 1894 | Komentar: 0

Pengacara Marcel, Hillarius Ngaji Merro SH saat jumpa pers. (Foto : Saifullah Nur Ichwan)

YOGYA (KRjogja.com) - Kuasa Hukum Marcel, tersangka kasus pengroyokan prajurit KOdim 0734 Yogyakarta, Sertu Sriyono dengan tegas membantah pernyataan Ketua Tim Investigasi AD Brigjen Unggul K Yudhono yang menyatakan jika kasus pembunuhan Serka Santoso di Hugos Kafe ada kaitanna dengan masalah hukum yang disangkakan Polisi kepada kliennya. Pengacara Marcel, Hillarius Ngaji Merro SH khawatir jika dua kasus tersebut dikait-kaitkan maka akan mengancam keselamatan para tersangka.

"Pertisiwa di Hugos Kafe dan di Jalan Dr Sutomo dengan korban Sertu Sriyono jelas tidak ada hubungannya. Kalau Hugos Kafe itu berawal dari senggolan, sedangkan di Jalan Dr Sutomo dari permasalahan sepeda motor. Jadi ini pernyataan Brigjen Unggul itu tidak benar," tegas Hillarius.

Kasus yang menjerat kliennya tersebut bermula saat salah satu tersangka meminta bantuan kepada Marcel untuk mengambil motor di Oto Finance karena ditarik oleh perusahaan leasing tersebut. Setelah melalu perindingan akhirnya pihak perusahaan mengeluarkan sepeda motor tersebut.

Saat itu tiba-tiba Sertu Sriyono datang dan langsung mengumpat Marcel. Kemudian korban memukul Meceli hingga terjatuh yang kemudian secara spontan memancing reaksi rekan-rekan tersangka lain ikut mengeroyok Sertu Sriyono. “Teman-teman langsung ikut mengroyok dan Arifin yang membacok korban," jelasnya.

Mengetahui bahwa korban itu anggota TNI, Marcel, Arifin dan Makmun menyerahkan diri ke Denpom, sedangkan Januarius ditangkap tiga hari kemudian. "Tersangka dan korban ini memang saling kenal. Makanya tahu kalau anggota TNI, langsung menyerahkan diri ke Denpom sebelum diserahkan ke Polresta Yogyakarta. Sekarang ini masih ada dua tersangka yang kabur," ujarnya.

Untuk pemindahan penahanan dari Polresta Yogyakarta ke Denpom itu, menurutnya, pemindahan itu atas inisiatif dari pihaknya. Hal itu untuk menjaga keamanan dari tersangka. "Kami cuma takut, klien kami juga menjadi korban seperti di Lapas Cebongan," pungkasnya. (Sni)