Sleman

VERSI TIM INVESTIGASI TNI AD

Kronologi Eksekusi Penyerangan Lapas Cebongan


Ahmad Lutfie | Jumat, 5 April 2013 | 03:24 WIB | Dibaca: 2551 | Komentar: 0

Anggota Komisi III DPR (nomor satu dan dua dari kiri) saat mendatangi Lapas Cebongan. (Foto: Wahyu Priyanti)

JAKARTA (KRjogja.com) - Ketua Tim Investigasi TNI AD, Brigjen TNI Unggul Yudhoyono, mengungkapkan, kronologis eksekusi tahanan di Lapas Cebongan. Dipaparkan, kasus penyerangan Lapas Cebongan Sleman pada 23 Maret 2013 sekitar pukul 00.15 WIB itu dilakukan oleh 11 oknum anggota Kopassus, di mana tiga orang di antaranya berasal dari daerah latihan di Gunung Lawu.

"Pelaku 11 orang dengan satu orang eksekutor berinisial U. Mereka menggunakan dua unit kendaraan Avanza berwarna merah dan APV warna hitam," jelasnya.

Dalam melakukan penyerangan, ke11 oknum anggota Grup 2 Kopassus itu dilengkapi 6 senjata api, terdiri dari 3 pucuk senjata laras penjang jenis AK-47 yang dibawa dari markas latihan Gunung Lawu, 2 pucuk AK-47 replika dan 1 pucuk pistol SIG Sauer replica.

Keinginan untuk melakukan penyerangan didasari tewasnya rekan mereka Serka Heru Santoso yang dikeroyok preman di Hugo's Cafe dan pembacokan terhadap mantan anggota Kopassus, Sertu Sriyono pada 20 Maret. Mendengar berita duka ini, salah satu prajurit berinisial U yang sedang ikut latihan di Gunung Lawu, kemudian turun gunung dan kembali ke markas Grup 2 Kopassus Kartosuro.

Selanjutnya U mengajak beberapa teman lainnya yang ada di markas untuk melakukan balas dendam atas perbuatan para preman itu. Namun, dari 11 orang pelaku yang ikut dalam penyerangan, hanya 9 orang yang terkait langsung. Menurut Brigjen TNI Unggul, dua prajurit lainnya berusaha mencegah aksi itu, namun tidak berhasil.

Menurut Unggul, dari hasil investigasi yang dilakukan selama enam hari juga disimpulkan, tindakan penyerangan terhadap Lapas Cebongan dilakukan secara spontan dan tidak direncanakan. "Penyerangan adalah tindakan seketika dan membela kesatuan setelah mendengar kabar pembunuhan tragis dan brutal terhadap Serka Heru Santoso," katanya.

Indikasi bahwa penyerangan itu kurang persiapan, antara lain bisa dilihat dari senjata yang digunakan, yaitu hanya 6 pucuk senjata yang dibawa sepulang latihan perang di kawasan Gunung Lawu, 3 pucuk di antaranya merupakan senjata replika. "Ini tidak terencana karena 3 senjata yang digunakan tidak diambil dari gudang, tapi langsung dibawa usai latihan. Kemudian senjata lain replika," jelas Unggul. (Imd)