Solo

Pendidikan Karakter Lewat 1000 Hari Gesang


Agus Sigit | Rabu, 6 Maret 2013 | 13:58 WIB | Dibaca: 348 | Komentar: 0

DIA memang bukan seorang presiden, atau pejabat tinggi negara yang namanya menjulang, namun seorang komponis lagu keroncong. Dengan bermusik, namanya mendunia, dan karya-karyanya selalu dikenang, walau kini dia sudah tenang di alam sana. Siapa yang tak kenal dengan Gesang yang seribu hari lalu menghembuskan nafas terakhir dengan meninggalkan sejumlah karya musik keroncong monumental.

Begitulah, untuk mengukir dunia, tidak harus lewat jabatan-jabatan publik bergengsi tinggi. Apapun karya yang dihasilkan, sepanjang ditekuni dengan dedikasi tinggi, akan membuahkan simpati dan empati masyarakatnya, bahkan karya-karya itu akan dikenang sepanjang masa. "Ini barangkali pendidikan karakter yang hendak kami sampaikan kepada anak-anak," ujar Darmadi, Kepala Sekolah Dasar (SD) Nayu Barat 2.

Untuk mengenang almarhum komponis keroncong Gesang Martodiharjo yang genap 1000 hari, puluhan siswa SD Nayu Barat 2, diajak beraktivitas dengan menggambar wajah Gesang serta menuliskan syair lagu Bengawan Solo, Rabu (6/3). Sebelum menggambar, Darmadi yang mendampingi peserta didiknya, memberi gambaran singkat sosok Gesang yang senantiasa hidup dalam kesederhanaan, meski namanya mendunia lewat karya-karyanya.

Sosok karakter seperti Gesang dalam kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat, menurutnya, dalam beberapa dekade terakhir sungguh semakin langka. Dalam posisi seperti itu, pengenalan tokoh Gesang secara mendalam kepada anak-anak yang masih memiliki langkah sangat panjang, serasa cukup mengena dalam kaitan pendidikan karakter. Terlebih, sepanjang hayatnya Gesang berdiam di Solo, sehingga secara geografis mengesankan kedekatan dengan anak-anak.

Kegiatan menggambar wajah Gesang serta menuliskan syair lagu bengawan Solo ini, sengaja diselenggarakan di luar kelas, tak saja untuk memberikan suasana lain, tetapi juga membuka cakarawala baru bagi anak-anak. "Artinya, belajar tidak harus di dalam kelas serta meliputi materi akademis, namun belajar di lakukan di mana saja dan perihal apapun," ujar Darmadi.

Sementara untuk memperteguh keyakinan anak-anak atas karyanya, dijadwalkan, lukisan menggunakan pensil dengan media kertas tersebut, akan dipamerkan bersama karya kelompok masyaraklat lain, termasuk mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) di arena Solo Car Free Day (SCFD) Minggu (10/3). Pameran mengenang 1000 Hari sepeninggal Gesang ini diberi tajuk Seribu Wajah Gesang. Jelek atau bagus karya anak-anak, bukan masalah, dan itu sangat relatif, sebab yang ingin diraih dalam kegiatan ini adalah proses yang menjadi spirit pendidikan karakter. (Hari D utomo)