Sleman

RI Perlu Teknologi Pengolahan Garam


Tomi Sujatmiko | Kamis, 28 Februari 2013 | 11:45 WIB | Dibaca: 621 | Komentar: 0

Ilustrasi (Foto : Istimewa)

SLEMAN (KRjogja.com) - Sebagai negara kepulauan yang memiliki garis pantai terpanjang ke-4 di dunia, Indonesia seharusnya berpotensi sebagai produsen garam. Sayangnya, karena minimnya teknologi, sumber daya alam yang ada belum dapat dimanfaatkan maksimal terutama untuk memenuhi kebutuhan garam dalam negeri.

"Meskipun perairan Indonesia sangat luas, namun pengolahan garam yang masih sangat tradisional menghambat efisiensi, kualitas, dan kuantitas produksi garam lokal," ujar Peneliti Pusat Studi Perdagangan Dunia (PSPD) UGM Lukman Baihaki, Kamis (28/2).

Menurutnya, hingga kini belum terlihat upaya siginifikan dari pemerintah untuk meng-upgrade teknologi pengolahan garam. Bahkan tidak ada insentif bagi petani garam sehingga sebagian besar dari mereka tidak mampu lagi berproduksi.

"Di Australia telah memiliki teknologi yang bisa menyuling air laut sehingga dapat memperoleh garam berkualitas baik. Kita jauh tertinggal karena tidak ada perbaikan teknologi," tuturnya.

Ia menuturkan, dalam kebijakan impor garam, harus ada kejelasan tentang kapasitas produksi dalam negeri dan sinergitas antara semua lembaga pemerintah yang terkait. Karena yang terjadi saat ini tidak ada sinkronitas antar data yang disajikan oleh kementrian-kementrian terkait.

"Secara statistik tidak terdapat kesesuaian antar data yang disajikan terkait kemampuan produksi garam lokal sehingga angka-angka yang muncul tidak bisa dipertanggungjawabkan. Akibatnya kebijakan impor garam yang seharusnya didasarkan pada alokasi kebutuhan garam lokal juga tidak memiliki kejelasan," katanya.

Di sisi lain, seharusnya pemerintah saat mengimpor garam dari Australia menyampaikan alasan pengambilan kebijakan tersebut karena produksi garam lokal memang tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan dalam negeri karena keterbatasan teknologi dan kondisi alam sehingga harus mengimpor. Tidak kalah penting, pemerintah juga perlu memperhatikan dan mengatur waktu dalam impor garam.

"Waktu impor sebaiknya dilakukan jauh hari sebelum musim panen. Pasalnya, saat pemerintah mengimpor garam di masa panen garam akan mberimplikasi pada turunnya harga garam di pasaran yang secara otomatis akan menurunkan tingkat pendapatan petani garam," imbuhnya. (Aie)