Kampus

Perang Diponegoro, Pertempuran Gaya Jawa Religius


Danar Widiyanto | Rabu, 9 Januari 2013 | 04:54 WIB | Dibaca: 846 | Komentar: 0

Ilustrasi. Foto: Dok

YOGYA (KRjogja.com) – Munculnya perilaku korupsi yang dilakukan birokrat lebih disebabkan masih kokohnya birokrasi feodal yang pernah berlaku di era kerajaan hingga masa kolonial. Warisan feodal yang berupa pola pikir dan mentalitas yang lebih menguntungkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya sudah merasuk pada para pejabat dan penguasa.

“Bahkan unsur budaya kolonial yang mengedepankan status atau kedudukan tercermin pada perilaku dan tindakan dalam struktur sosial masyarakat. Gejala ini menjiwai kepribadian penguasa, gaya hidup menempatkan materi sebagai piranti simbol dan kekuasaan,” kata sejarawan UGM Prof Dr Suhartono di Pusat Studi Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM, Senin (8/1).

Usai diskusi memperingati peringatan wafatnya Pangeran Diponegoro, Prof Suhartono dari Pusat Studi Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM mengatakan, sistem sosial feodal yang berlaku dan berakar dalam masyarakat yang dulunya dibina kerajaan-kerajaan, khususnya kerajaan agraris feodal, telah memberi dasar pemerintahan kerajaan yang berlaku di seluruh nusantara.

Bahkan kronologis korupsi yang terjadi saat ini berhubungan dengan struktur masyarakat dan keberlangsungan secara sosio-kultural hampir tidak mengalami perubahan secara signifikan sehingga korupsi berlangsung terus. Menurut guru besar Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM ini, sejak dari masa pemerintahan kolonial sampai menjelang akhir periode tersebut, koruptor sejati pemerintah lewat para birokrat.

Di antaraya, penyelewengan pajak yang dibebankan kepada rakyat. Besarnya beban pajak yang harus ditanggung serta maraknya praktek penyelewengan pajak menjadikan rakyat melakukan perlawanan. Pangeran Diponegoro di masa pemerintahan kolonial menurut Prof Suhartono merupakan sosok pejuang yang mendambakan kemerdekaan juga mendobrak tata pemerintahan korup pemerintah kolonial.

Sebagai simbol kesatria yang tulus dan jujur, menguasai seni berperang dan memiliki jiwa kepemimpinan yang baik, Diponegoro mampu menggerakkan rakyat melakukan perlawanan pada pemerintah Belanda, tidak hanya diikuti masyarakat Yogyakarta, namun juga di Jawa Tengah dan Jawa Timur. “Perang itu meluas hingga ke Jawa Timur. Ini saya sebut sebagai perang Jawa religius,” katanya.

Pada kesempatan yang sama asisten peneliti Pusat Studi Pancasila (PSP) UGM, Cahyo Gumilang mengatakan, Goa Selarong yang dulu menjadi tempat persembunyian Pangeran Diponegoro selama perang gerilya saat ini kurang terawat meski sudah dijadikan objek wisata. Goa yang berada di desa Guwasari, Pajangan, Bantul tersebut bahkan minim perawatan.

“Transportasi umum menuju ke sana saja tidak ada,” katanya sembari mendesak pemerintah untuk segera memberi perhatian pada lokasi wisata bersejarah tersebut. (Asp)