Citizen Journalism

Andi Ekojati

Fenomena Kandidat Bupati Temanggung


Agus Sigit | Minggu, 25 November 2012 | 00:48 WIB | Dibaca: 1488 | Komentar: 0

Ilustrasi. Foto: Dok

Pilkada senantiasa memiliki daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Palingtidak itu jika dibandingkan dengan pemilihan calon legislatif. Bahkan untuk masyarakat lokal, antusiasme pilkada untuk Pemilihan Bupati lebih menarik ketimbang Pemilihan Gubernur.

Kenapa? Karena ada ikatan emosional yang lebih dengan dengan warga. Kandidat bupati misalnya, masing-masing berasal dari daerah asalnya. Bahkan masyarakat relatif mengenal di antara kandidat, sekalipun hanya kenal dalam pengertian nama-nama dan pernah berjumpa sekali dua kali.

Persepsi saya tentang Pilkada seperti itu paling tidak terjadi di daerah saya, Kabupaten Temanggung yang hajatan Pilkadanya akan dilakukan pada 26 Mei 2013 mendatang.

Sekalipun suasana pra-pilkada tak semarak pilkada tahun 2008 lalu, tapi aroma kegiatan politik, utamanya tim kerja kandidat sudah mulai jalan, bahkan kandidat sendiri sudah mulai gerilya konsolidasi.

Melihat situasi Temanggung secara langsung, paling tidak ada beberapa hal yang penting dianalisis perkembangannya. *Pertama*, tak ada kandidat incumbent (pentahana). Bupati Hasyim Afandi menyatakan diri tidak akan maju kembali. *Kedua*, majunya kembali Ketua DPRD Temanggung, Bambang Soekarno (PDIP) yang sebelumnya telah mengikuti pencalonan dua kali tetapi selalu kalah.

*Ketiga*, kemungkinan tampilnya Budiarto wakil bupati sebagai kandidat. Keempat, pesona kandidat Muda Fuad Hidayat yang ternyata mendapat respons luar biasa dari masyarakat desa dengan aksi-aksi kolektifnya bersama kaum muda Temanggung dengan program-program terobosannya.

Dengan tidak majunya Bupati  Hasyim, secara otomatis isu tandingan dari kandidat baru melawan*incumbent* tidak terjadi. Adapun tampilnya Bambang Soekarno sebagai kandidat gaek yang pernah duakali kalah, tidak cukup memiliki bobot jual di kalangan pemuda, dan pemilih pemula.

Bambang memang punya basis massa cukup kuat, tetapi itu terbatas pada geo-politik masyarakat agraris pegunungan tembakau. Adapun Budiarto, yang dikenal sebagai birokrat tulen dan hidup dalam bawah bayang-bayang Hasyim Afandi tak begitu berani menawarkan gagasan perubahan.

Bahkan terkesan, Budiarto selama ini melakukan konsolidasi dengan memanfaatkan ruang birokrasi dan lebih suka memainkan politik tradisional dengan loby-loby. Isu Narkoba misalnya, dipakai untuk komoditi kampanye tanpa penjelasan serius untuk mengatasi persoalan narkotika di Temanggung.

Fuad Hidayat tampil menerobos kebuntuan tersebut. Sebagai kandidat dari kelompok NU, didukung para kiai, juga organisasi-organisasi nasionalis, mampu memikat perhatian karena ia tidak menjual isu primordial seperti Ke-Nu-an, melainkan lebih fokus pada upaya modernisasi dalam berbagai bidang.

Fuad secara serius ingin menampilkan dirinya sebagai pemimpin rakyat, bukan pemimpin golongan dan itu paling tidak dibuktikan melalui sikap rendah-hatinya mengandeng elemen-elemen lintas golongan. Ia bahkan sangat menghormati *Incumbent* dengan program yang sekarang berlangsung, dan secara serius ingin mewarisi kebaikan Bupati Hasyim yang dikenal mampu memberikan banyak perubahan selama kepemimpinannya.

Isu kemajuan dengan slogan Maju Lebih Cepat, Sejahtera Bersama, Menuju Temanggung Berprestasi Nasional yang diusung Fuad sangat memikat sehinga ia semakin mampu memosisikan daya tawar, -sebagai seorang Pemuda (36 tahun) sebagai pengawal gerak dinamika perubahan lokal. Tak heran kalau kemudian beberapa polling lokal membuktikan bahwa kadar popularitas Fuad justru lebih tinggi dari Budiarto, dan hanya bertaut kecil dengan nama besar Bambang Soekarno, termasuk dengan nama Bupati Hasyim Afandi, dan juga Tunggul Purnomo (ketua Partai Golkar).

Ada pula hasil survei sebuah lembaga di Jakarta (Lembaga Penelitian Sosial-Politik-LPSP) yang merelease secara valid pada akhir oktober dengan memberikan peringkat. Bambang Soekarno (25,7 %), Tunggul Purnomo, (22,2%), Fuad Hidayat (21,9%), (Bambang Arohman, 11,4%), dan beberapa nama di bawah angka 8% lainya seperti Anif Punto Utomo, Denti E.Pratiwi, Prof Mujiono.

Dengan berkaca seperti itu, paling tidak menegaskan bahwa saat ini, pilkada lokal, khususnya di Temanggung melangkah lebih maju, lebih rasional, karena ternyata sekarang masyarakat punya kesadaran politik program yang terukur dan bisa diwujudkan, bukan sekadar slogan.

Fuad Hidayat berjalan tidak sendirian, melainkan secara kolektif melibatkan aktivis-aktivis muda yang memiliki komitmen kemajuan secara nyata dengan janji politik yang masuk akal, disertai penjabaran-penjabaran yang detail sehingga bisa diketahui masyarakat.

Penulis adalah Mahasiswa FISIP UGM, tinggal di Temanggung