seni-dan-Budaya

Guntur Laut, Gamelan Kenegaraan Kraton Ngayogyakarta


Danar Widiyanto | Kamis, 22 November 2012 | 08:59 WIB | Dibaca: 740 | Komentar: 0

Tempat menyimpan Kyai Guntur Laut. (Foto: Warisman)

GAMELAN Kyai Guntur Laut yang sekarang berada di Kraton Ngayogyakarta dipercaya berasal dari zaman Majapahit. Konon gamelan munggang ansamble sederhana itu dulunya dianggap suci, hanya dimainkan pada saat ada acara kenegaraan yang penting.

Dalam buku Kraton Jogja The History and Cultural Heritage disebutkan, pada tahun 1755 raja Surakarta Hadiningrat Sunan Pakubuwono III mengizinkan gamelan tersebut dimainkan untuk menyambut Sultan Hamengkubuwono I pada saat penandatanganan perjanjian Giyanti.

Di masa lalu, gamelan itu juga dimainkan pada saat di kerajaan ada pernikahan, garebeg ataupun saat pemakaman raja. Kyai Guntur Laut terdiri dari empat rak bonang, kenong japan satu yang memukulnya seperti kethuk untuk mengontrol irama, dua penonthong yang juga disebut bende, dua gong besar salah satunya disebut Kyai Lindhu, sepasang simbol yang disebut rojeh, satu kendhang gendhing dan satu penunthung atau ketipung.

Pada masa lalu gamelan munggang juga dimainkan pada hari Sabtu untuk menemani kompetisi watangan. Oleh karena itu Kyai Guntur Laut juga mendapat sebutan Gangsa Setu atau Gamelan Sabtu. Ternyata Bupati Manca dan Pesisir juga mempunyai gamelan untuk mengiringi Watangan yang diadakan pada hari Senin. Oleh karena itu, gamelan tersebut mendapat sebutan Gangsa Senen atau gamelan Senin. Termasuk gamelan sederhana yang dimainkan pada nada tertentu dan disebut gendhing munggang. (War)