Citizen Journalism

Ida Nur Khasanah

Game Dapat Merangsang Saraf Motorik Anak


Agus Sigit | Rabu, 24 Oktober 2012 | 14:49 WIB | Dibaca: 1299 | Komentar: 0

Setiap orang tua pasti menginginkan anaknya dapat tumbuh berkembang menjadi seorang anak yang cerdas dan aktif, untuk itu kita harus merangsang saraf motorik anak agar dapat melatih kreatifitas pada anak, namun setiap anak  memiliki kecerdasan yang berbeda-beda, tergantung dari faktor genetiknya. Akan tetapi seiring pertumbuhannya, faktor nutrisi dan lingkungan akan lebih mendominasi dari pada faktor genetik, seperti yang dipaparkan oleh pakar tumbuh kembang anak, dr Soedjatmiko Sp AA yang menyebutkan bahwa ada tiga faktor utama tumbuh kembang anak yakni nutrisi, stimulasi dan kasih sayang. Salah satu kunci utamanya adalah rangsangan atau stimulasi. Kecerdasan itu membutuhkan rangsangan, dan ketika masih anak-anak rangsangan yang paling baik yaitu bermain dan perhatian dari orang-orang yang berada disekitar si anak.

Ketika orang tua disibukkan dengan masalah tumbuh kembang anak yang mengharuskan mereka memberikan perhatian dan bimbingan bermain kepada si anak, membuat sebagian besar orang tua senantiasa memberikan segudang alat bermain yang dibelinya di toko mainan, akan tetapi karakter si anak yang mudah bosan dan selalu menginginkan mainan yang baru membuat sebagian besar orang tua mau tidak mau harus menuruti keinginan si kecil, agar si kecil mau bermain dan aktif kembali. Namun cara ini kurang efektif dan efisien, dikarenakan mainan yang dibeli hanya dipakai untuk beberapa kali saja.

Namun kini pengembangan game untuk anak merupakan suatu media yang dapat menjadi salah satu alternatif pilihan lain dalam memberikan suatu pembelajaran kepada anak, mainan yang hanya memakai benda 2 atau 3 dimensi membuat anak merasa bosan karena bertemu dan menggunakan media yang selalu sama. Hal ini membuat anak menjadi kurang berkembang.

Di zaman yang serba canggih ini banyak sekali peralatan elektronik yang semakin mudah untuk digunakan oleh manusia, bahkan anak kecil pun sudah mulai mahir dalam penggunakan peralatan elektronik seperti I-Pad, Laptop, Handphone, dan sebagainya. Kini para orang tua tidak perlu khawatir lagi, si anak akan jenuh atau bosan dengan mainannya, karena sekarang sudah mulai bermunculan game online maupun offline yang inovatif dan sangat mendidik, sehingga para orang tua dapat mengakses game tersebut untuk si kecil yang tentunya menarik dan sesuai dengan tahapan usia si anak, akan tetapi orang tua juga harus jeli dalam memilih permainan untuk si kecil, sesuaikan dengan usianya dan tetap awasi si kecil ketika bermain, meskipun permainan ini relatif aman.

Berikan game yang mengandung unsur audio dan visual yang menarik tentunya, karena anak cenderung suka memperhatikan dan kemudian menirukan apa yang dia dengar dan dia lihat, cara ini sangat efektif untuk stimulasi pendengaran, penglihatan, kinestetik dan motorik pada anak.

Game animasi untuk anak kini sudah mulai berkembang diberbagai kalangan penguna game. Zynga contohnya, salah satu perusahaan pendiri Game Edukasi ini merupakan perusahaan yang sudah menciptakan ribuan games dengan genre sosial. Perusahaan yang menciptakan sebuah permainan yang menjunjung tinggi tentang pendidikan, sehingga anak dapat bermain sambil belajar. Permainan yang diciptakan adalah permainan untuk segala umur, baik dari kalangan anak-anak sampai dewasa. Game juga bisa menumbuhkan cita-cita yang tinggi untuk anak, misalkan ketika si kecil ingin menjadi komandan militer, cukup dengan bermain "Empires and Allies" anak akan belajar bagaimana menciptakan pasukan dan pertahanan yang kuat dan sebagainya. Kalau si anak bercita-cita menjadi detektif misalnya, anak pun bisa bermain game "Hidden Chronicles" untuk dilatih mencari benda-benda tersembunyi, dan masih banyak lagi permainan untuk anak-anak yang kini mulai bermunculan baik offline maupun online.

Namun orang tua juga harus senantiasa memberikan pujian dan ketenangan jiwa pada si kecil, karena kemampuan motorik berkaitan erat dengan perkembangan fisik dan dapat menumbuhkan rasa kepercayaan diri pada anak.


Penulis adalah penerima beasiswa unggulan kemendikbud, mahasiswa Game Technology Unika Soegijapranata.