Kota Yogyakarta

Bikin Adem, KA Bisnis Pakai AC


Tomi Sujatmiko | Kamis, 16 Agustus 2012 | 13:07 WIB | Dibaca: 3340 | Komentar: 2

Ilustrasi (Foto: Dok)

YOGYA (KRjogja.com) - PT Kereta Api Daerah Operasional (Daops) VI Yogykarta akan memasang faslitias pendingin udara (AC) pada kelas bisnis yang akan diluncurkan sejak arus balik Lebaran atau akhir Agustus mengikuti fasilitas di kelas ekonomi.

Kepala PT KA Daops VI Yogyakarta, Sinung Tri Nugroho mengungkapkan, pemasangan AC pada kereta kelas bisnis tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan pelayanan pada konsumen. Termasuk memberikan kenyamanan dalam perjalanan kereta.

"Rencananya semua kereta nanti akan dirancang memiliki fasilitas AC. Untuk ekonomi sudah dilakukan dan sekarang giliran kereta kelas bisnis. Ini agar penumpang bisa merasa nyaman," ujarnya, Kamis (16/8/2012).

Menurutnya, dengan adanya pemasangan AC tersebut memang membutuhkan biaya operasional dan perawatan yang lebih dari biasaynya. Namun pihaknya belum bisa memastikan apakah pemasangan AC tersebut akan berpengaruh pada kenaikan harga tiket.

"Ya nanti setelah berjalan beberapa waktu akan kita tinjau lahi. Kemungkinan memang harga tiket akan ada perubahan, tapi tidak mahal juga. Dan pemasangan AC ini juga tidak membutuhkan biaya terlalu besar," tuturnya.

Kepala humas PT KA Daops VI Yogyakarta, Eko Budiyanto menambahkan, di wilayah Daops VI terdapat lima jenis kereta kelas bisnis. Diantaranya Lodaya, Sancaka, Senja Utama, Fajar Utama dan Senja Utama Solo. Kereta itulah yang nanti akan segera dipasang AC.

Dijelaskan, dengan adanya pemasangan AC seperti yang telah dilakukan pada kereta kelas ekonomi, memang memerlukan biaya perawatan. Sehingga sedikit berpengaruh dengan harga tiket. Namun, ia belum bisa memastikan apakah kereta kelas bisnis juga akan mengalami kenaikan harga tiket.

"Kita belum tahu mau naik atau tidak. Kalau di kereta ekonomi, dulu harga tiket kereta Progo Rp35.000, lalu setelah dipasang AC menjadi Rp90.000. Untuk kereta Bengawan, sebelumnya Rp37.000 dan setelah ber-AC menjadi Rp100.000," jelasnya.

Adanya perbedaan harga tiket yang cenderung naik tersebut menurutnya bukan berarti angkutan kereta sudah tidak lagi pro rakyat. "KA itu kan BUMN dan oleh pemerintah sudah diijinkan profit. Kalaupun kita tidak bisa menaikkan tiket ya mestinya pemerintah peduli, paling tidak memberi subsidi," imbuhnya. (Aie)