Kedu Selatan

Tanam Padi Tahan Air Payau


| Selasa, 17 Juli 2012 | 08:01 WIB | Dibaca: 1137 | Komentar: 0

Sawah tergenang air payau. Foto: Jarot S

PURWOREJO(KRjogja.com) Pihak Dinas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut)Kabupaten Purworejo mengimbau petani kawasan rawan genangan untuk menanam padi tahan air payau. Sejumlah varietas lokal seperti jenis Banyuasin dan Indragiri serta jenis baru Inpara, dikenal sebahgai padi yang tahan genangan.

Kadar garam sedang atau tinggi pada air dapat menyebabkan tanaman busuk dan puso. Kendati demikian, masih jarang petani yang membudidayakan varietas tersebut. "Bisa dikatakan tidak ada, petani pesisir menanam IR atau Ciherang, yang rentan jika ada genangan air payau," ungkap Ir Dri Sumarno, Kepala DInas Pertanian dan Kehutanan (Distanhut) Kabupaten Purworejo, kepada KRjogja.com, Selasa (17/7).

Petani enggan menanam padi tahan genangan karena produktivitasnya kalah dibanding jenis IR dan Ciherang. Padi air payau hanya menghasilkan lima sampai enam ton perhektare, sedangkan jenis IR bisa delapan hingga sembilan
ton.

Selain itu, waktu tanam padi rawa mencapai 120 hari. "Padi yang biasa mereka budidayakan hanya perlu 90 hari untuk bisa panen. Setelah diperhitungkan mereka lebih memilih IR atau Ciherang," katanya.

Menurutnya, beberapa tahun lalu pemerintah pernah mencoba menanam padi jenis Banyuasin dan Indragiri di Rowodadi Kecamatan Grabag yang dikenal daerah rawan genangan. "Niatnya untuk ujicoba, namun belum dipastikan hasilnya karena ketika tanam, tidak ada genangan air. Kondisi itu menyebabkan petani enggan meniru tanam padi tahan genangan", terangnya.(Jas)