Sleman

Tokoh Yahudi dan Lintas Agama Dunia Pelajari Kerukunan NU - Muhammadiyah


Danar Widiyanto | Rabu, 4 Juli 2012 | 12:58 WIB | Dibaca: 505 | Komentar: 1

Suasana kunjungan. Foto: Deni H

PRAMBANAN (KRjogja.com) - Empat puluh dua orang tokoh lintas agama dunia hari ini mengunjungi Vihara Buddha Murti, sebuah vihara kecil di daerah Jetis, Kotesan, Prambanan. Mereka berasal dari lebih 20 negara, diantaranya Polandia, Khazastan, Australia, Zimbabwe, AS, Uganda, Afganishtan, Mesir, dan sebagainya.

Para tamu adalah peserta The International Summer School on Religion and Public Life (ISSRPL) 2012 yang berpusat di Amerika Serikat. Mereka adalah gabungan pemeluk berbagai ragam keyakinan/agama, termasuk juga pemikir bebas ataupun agnostik, yang datang untuk mempelajari kerukunan beragama di kawasan ini. Mereka diterima pengurus vihara, dan pemuka agama Islam kawasan setempat, yang menjawab berbagai pertanyaan seputar kehidupan sosial-beragama.

Tokoh NU setempat, Haji Harbun Thalib mengatakan di sini NU dan Muhammadiyah bisa hidup bersatu di satu kawasan. Pengikut dua ormas ini masing-masing bahkan bisa beribadah bersama di dalam satu masjid.

"Sebelum tahun 70-an warga disini belum terlalu memperhatikan agama, karena masih memikirkan perut sendiri-sendiri. Tahun 70-an kehidupan beragama mulai berkembang, dan yang dominan adalah Islam," jelasnya.

Kepada para tamu, ia menceritakan, dulu pernikahan beda agama adalah sesuatu yang lazim di daerah ini, dimana pasangan menjalankan ibadah sendiri-sendiri. Namun semenjak tahun 1974, agama suami-isteri harus disamakan, karena keinginan pemerintah. Meski demikian,  masyarakat berbeda agama menurutnya tetap bisa berdoa bersama lewat acara adat, misalnya kenduri.

"Kenduri itu tidak ada dalam Islam, tetapi baik, karena mempersatukan masyarakat, ada unsur sedekah, semua bisa berdoa menurut agamanya, sehingga patut dilestarikan," ujarnya.

Ia mengaku, tidak pernah terjadi konflik antar umat beragama di kawasan ini. Kalau ada konflik antar penduduk, menurutnya selalu dibicarakan bersama, dan tidak pernah membawa-bawa agama. "Semua umat jalan sendiri-sendiri. Satu agama punya rel sendiri, tinggal diikuti, tidak perlu mengganggu rel yang dimiliki orang lain," paparnya. (Den)