Solo

Ikuti Upacara Tingalan Jumenengan Pakoe Boewono (PB) XIII

Dipersulit Masuk Kraton Surakarta, Tedjowulan Maklum


Agus Sigit | Jumat, 15 Juni 2012 | 20:20 WIB | Dibaca: 789 | Komentar: 0

Sebelum diperbolehkan marak ke Sasana Sewaka, Tedjowulan (no 2 dari kiri) dan istrinya Ratu Hemas duduk lesehan di bangsal Nguntorosono. (Foto: Anjar

SOLO (KRjogja.com) - Kanjeng Gusti Pangeran Hayo (KGPH) Panembahan Agung Tedjowulan beserta ratusan pendukungnya berhasil masuk dan mengikuti upacara adat Tingalan Jumenengan (upacara ulang tahun bertahta) Raja Kraton Kasunanan Surakarta Pakoe Boewono (PB) XIII , Jum’at (15/6), meski melalui proses cukup berliku.Tedjowulan yang sudah lama menunggu di Sasono Mulyo baru bisa masuk kraton setelah Kapolresta Solo Kombes Pol Asdjimain menjemput Tedjowulan dan diantar masuk ke Kraton melalui pintu Sri Manganti.

Tedjowulan dan rombongan tidak boleh langsung marak ke Sasana Sewaka tempat berlangsungnya prosesi jumenengan, Tedjowulan harus menunggu cukup lama duduk lesehan di bangsal Nguntorosono .

Saat Tedjowulan laku-ndodok mendekat ke dampar kencana yang diduduki raja Pakoe Boewono XIII sempat terjadi insiden kecil ketika GPH Madu Koesoemo yang ingin bergabung dengan kakaknya Tedjowulan di Sasana Sewaka dihalang-halangi oleh kubu GRAy Koes Moertiyah yang mengendalikan prosesi jumenengan. GPH Madu Koesoemo sempat terlibat adu mulut dan saling dorong dengan beberapa orang saat dipaksa agar tetap duduk di kursi bangsal Paningrat, belakang Sasono Sewoko.

Panembahan Agung Tedjowulan yang telah duduk lesehan di lantai Sasana Sewaka di dekat PB XIII terpaksa meninggalkan tempat dan melerai keributan, serta membawa Madu Koesoemo ke Sasana Sewaka. Meskipun sempat diwarnai dengan insiden kecil, tetapi upacara peringatan naik tahta Raja Kasunanan Surakarta PB XIII tersebut berjalan dengan lancar. Tarian sakral Bedhoyo Ketawang yang ditarikan sembilan orang penari berlangsung khidmat.

Sementara itu  sejumlah tokoh penting yang semula diundang untuk menghadiri jumenengan dan menerima gelar kehormatan dari Keraton Kasunanan Surakarta, urung hadir dalam acara tersebut. Ketua DPR RI Marzuki Alie yang sebenarnya sudah berada di Kota Solo pun memutuskan untuk tidak hadir dan langsung kembali ke Jakarta.

Menurut KGPH Tedjowulan, seusai upacara jumenengan mengatakan, pihaknya tidak mempermasalahkan soal penyambutan dirinya di kraton termasuk pengumuman Maklumat yang sedianya dibacakan saat prosesi jumenengan namun tertunda. “Semuanya dilakukan secara bertahap, masih ada waktu untuk mensosialisasikan tentang rekonsiliasi serta  melakukan langkah-langkah kongkrit untuk membangun Kraton Kasunanan Surakarta,” tuturnya.

Tedjowulan menambahkan proses untuk mewujudkan rekonsiliasi memang tak mulus, sehingga semua pihak di Kraton Surakarta tidak ada yang merasa ditinggalkan. “Mari kita guyub bersatu untuk kemajuan Kraton Surakarta yang menjadi sumber budaya Jawa itu,” papar Tedjowulan.

Sementara itu, Wali Kota Solo, Joko Widodo, yang turut hadir di Kraton Surakarta  mengatakan setelah kedua pihak berdamai, maka Keraton Surakarta diharapkan bisa melakukan penataan manajemen keraton. “ Sehingga peran pemerintah kota, propinsi, serta pusat terhadap keraton akan lebih jelas, termasuk untuk memberi bantuan dana bagi kemajuan kraton,”papar Jokowi.

Berbeda dengan peringatan naik tahta Raja Surakarta tahun-tahun sebelumnya, pada peringatan jumenengan ke -8 tahun ini pengamanan pelaksanaan upacara adat tersebut terlihat sangat ketat. Sekitar 500 personel dari Polri dan TNI nampak berjaga-jaga di sekitar keraton. Tidak hanya itu dua unit mobil lapis baja baracuda dan satu unit mobil penjinak bom  juga disiapkan di sekitar keraton.

“Ada sekitar 500 personel dari TNI dan Polri diterjunkan untuk pengamanan pelaksanaan prosesi jumenengan ini agar berjalan lancar,” kata Kapolresta Solo, Kombes Pol Asdjimain. (Hwa)