Kota Yogyakarta

Gereja Turut Bertanggungjawab Dalam Kerusakan Lingkungan di Indonesia


Ivan Aditya | Jumat, 15 Juni 2012 | 10:15 WIB | Dibaca: 721 | Komentar: 0

Ketua Umum PGI Pdt. A.A. Yewangoe. (Foto : Deny Hermawan)

YOGYA (KRjogja.com) - Gereja selaku institusi dan persekutuan umat dipandang turut bertanggungjawab dalam kerusakan alam yang terjadi di Indonesia. Pasalnya, kebanyakan gereja belum bisa mengambil langkah nyata dalam upaya pelestarian lingkungan hidup. Hal tersebut disampaikan Ketua Umum Persekutuan Gereja-Gereja di Indonesia (PGI) Pdt A.A. Yewangoe dalam acara peluncuran buku dan diskusi 'Kerusakan Lingkungan : Peran dan Tanggung Jawab Gereja' di kampus Universitas Kristen Duta Wacana (UKDW) Yogyakarta, Jumat (15/6).

Yewangoe  menerangkan, dirinya sudah berkeliling Indonesia dan melihat melihat banyak kerusakan alam, terutama di kawasan Indonesia timur yang dieksploitasi habis-habisan kekayaan mineral alamnya. Gereja dalam hal ini hanya sering berwacana saja, namun tidak mengambil langkah konkret untuk menjaga kelestarian alam.

"Lazimnya gereja-gereja kita hanya omong-omong saja. Misalnya sudah ada anggota jemaat yang mempelopori tidak menggunakan plastik. Simpel, tapi juga tidak dilaksanakan," ujarnya.

Ia mengakui, sekarang memang banyak dilakukan aksi penanaman pohon, termasuk oleh pemerintah. Namun sesungguhnya apa yang dilakukan hanya untuk pencitraan untuk menghabiskan anggaran belanja. "Kalau negara belum bertobat dalam menggadaikan kekayaan alamnya, lama-lama Indonesia akan hancur," tandasnya.

Kepala Badan Lingkungan Hidup DIY, Drajat Ruswandono yang menyampaikan pidato Gubernur DIY Sri Sultan HB X, bila dilihat seksama kondisi lingkungan hidup dunia saat ini memang semakin parah. Hal ini sangat dipengaruhi juga rendahnya partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan hidup, karena kurangnya pemahaman masyarakat akan hal tersebut.

"Karena itu tidak cukup slogan semata. Dibutuhkan tindakan, walau kecil namun nyata," ujarnya.

Wakil Rektor IV UKDW, Henry Feriadi menerangkan, isu lingkungan hidup memang sudah nyata terjadi. Di Malinau, Kalimantan misalnya, dilakukan eksploitasi tambang batubara dengan brutal, dimana tanah dieksploitasi hingga kedalaman 300 meter. Ini menyebabkan danau-danau di sekitarnya menjadi rusak.

"Banyak juga Gereja disana, namun bagaimana peran Gereja dan orang-orang beriman lainnya?" tandasnya. (Den)