Solo

Desa Manjung Mampu Produksi 17 Ton Soun


Tomi Sujatmiko | Kamis, 31 Mei 2012 | 12:56 WIB | Dibaca: 1093 | Komentar: 3

Perajin menjemur mie soun (Foto: Atiek WH)

DESA Manjung di Kecamatan Ngawen, Kabupaten Klaten sudah lama terkenal sebagai sentral penghasil mie soun karena 20 persen jumlah penduduk mengandalkan mie berbahan baku tepung aren ini.

Memasuki musim kemarau ini, sejumlah pengusaha mie soun sedang giat-giatnya melakukan produksi. Dalam sebulan terakhir rata-rata produksi mie soun siap edar di desa tersebut mencapai 17 ton perharinya. Berdasarkan pantauan beberapa pekerja perempuan tengah menjemur mie. Penjemurannya menggunakan papan panjang dari zenk.

Pekerja lainnya tengah mengecek mie yang digantung. Penjemuran biasanya membutuhkan waktu hingga 3 jam sampai benar-benar kering. Tercatat ada 65 pengusaha mie soun yang tersebar di 10 wilayah di Desa Manjung. Paling banyak terdapat di Dukuh Manjung, Ngaglik, Tegalsari, Dukuh dan Tegalrejo. Sedangkan di Sidomulyo, Tuban Wetan, Jamburejo dan Tuban Kulon hanya ada 1-3 produsen saja.

Keberadaan pabrik mie soun ini ternyata mampu menyerap ratusan tenaga kerja yang didominasi ibu-ibu rumah tangga. Mereka diberi tugas untuk melakukan pengemasan. Bisa dikerjakan di rumahnya masing-masing atau datang ke produsennya sendiri. Pemasaran mie ini hampir di seluruh daerah di Propinsi Jawa Timur. Selebihnya hampir merata di Jawa Tengah. Namun ditengah semangat-semangatnya pengusaha untuk membuat mie soun, mereka justru dihadapi dengan langkanya bahan baku berupa tepung aren dan sagu.

Tepung aren didapat dari Kecamatan Tulung Klaten. Disana tepung aren oleh masyarakat diolah menjadi produk makanan lain, hunkwe. "Sementara untuk tepung sagu didapat dari Pulau Sumatera," kata Kades Manjung AB Amanto.

Lebih lanjut Amanto mengungkapkan, pembuatan mie soun memang sangat tergantung dengan cuaca. Kalau panas, dalam sehari bisa mengolah sampai tiga kali proses. Namun kalau cuaca sedang tidak bersahabat, rata-rata perhari hanya mampu memproduksi sekali. Itupun hasilnya kurang bagus karena proses penjemurannya tidak maksimal. (Atiek Widyastuti H)