Opini

Menuju Yogya Kota Budaya Ideal


cwpel | Selasa, 15 Januari 2013 | 15:56 WIB | Dibaca: 1308 | Komentar: 3

Oleh : Indra Tranggono

TAHUN 2012 adalah tahun manis bagi para pemangku kepentingan DIY (pemerintah dan publik) karena Undang- Undang Keistimewaan telah disahkan. Bagaimana kita menyikapi UU itu agar keistimewaan DIY semakin berkilau?

Membangun idealitas Yogyakarta (baca DIY) sebagai kota/daerah istimewa budaya bisa dimulai dari pemahaman tentang faktor-faktor pendukungnya. Pertama, nilai-nilai yang tumbuh dan hidup di DIY, yakni Memayu Hayuning Buwana, sarira, bangsa lan manungsa (melindungi, memelihara, membina keselamatan dunia, diri pribadi, bangsa dan umat manusia); sawiji, greget, sengguh ora mingkuh (terpadu, gigih penuh kerja keras, percaya diri dalam bertindak, konsisten, penuh komitmen dan tidak akan mundur dalam menghadapi risiko) dan golong- gilig (soliditas yang terwujud dalam pengerahan segenap sumber daya).

Kedua, lingkungan fisik/ geografis (kondisi alam, bangunan bersejarah/cagar budaya, tata kota/ yang mengacu pada kenyamanan, keindahan dan kebanggaan). Ketiga, sejarah dan mitosmitos (narasi-narasi historis tentang kota, peradaban dan kisahkisah yang menyertainya; yang terkait dengan sistem religi, keyakinan atau kearifan lokal). Keempat, atmosfer kreatif (iklim penciptaan karya seni-budaya yang menginspirasi). Kelima, perilaku yang berbasis pada etos dan etik.

Keenam, aktivitas warga (seluruh dinamika kegiatan warga yang berorientasi pada pencapaian kualitas kehidupan yang antara lain terkait dengan aktivitas pendidikan (formal-informal), ritus-ritus sosial, aktivitas seni-budaya dll). Dan ketujuh, produk budaya yang mewujud di dalam budaya ide (gagasan) budaya ekspresi estetik non-estetik budaya karya material.

Kita pun perlu memahami karakter masyarakat Yogyakarta atau DIY yakni terbuka/ramah, sehingga memungkinkan dialog nilai antara budaya tradisi dan budaya modern; toleran, memiliki kemampuan psikologis untuk menerima dan menghargai perbedaan budaya, agama, sistem keyakinan, dll; plural-multikultural (menerima, mengakui, mengapresiasi dan memberi hak hidup kemajemukan/kebhinnekaan budaya); kuat dalam budaya tradisi/lokal namun tidak menutup diri terhadap budaya modern/global (penerimaan secara selektif) dan mandiri.

Selain itu watak Yogya adalah komunal, menjunjung keguyuban/kerukunan/ solidaritas sosial; kreatif dan produktif, selalu memberi berbagai alternatif pilihan untuk mengembangkan kebudayaan. Perlu pula memahami para pemangku kepentingan budaya di DIY. Juga perlu mengetahui tantangan yang menghambat kebudayaan, seperti eksklusivisme; homogenitas budaya (penunggalan budaya anti keragaman); primordialisme, faham yang mengutamakan suku, agama, golongan, ras yang tak memberi ruang bagi entitas lain; radikalisme agama yang berpotensi menggusur budaya lokal dan meniadakan keragaman; radikalisme pasar yang dipompa kapitalisme liberal dan menjadikan manusia tak lebih dari makhluk konsumen; liberalisme yang mengutamakan kebebasan individual/kelompok dan menggusur spirit paguyuban, solidaritas dll; globalisme yang berpotensi menggusur segala keunikan budaya lokal.

Membangun Yogya kota budaya yang ideal harus menggunakan strategi kebudayaan yang meliputi beberapa hal. (1) Mempertahankan nilai dan spirit yang tumbuh dan berkembang di Yogyakarta yang disebut dalam paparan di atas. (2) Mempertahankan budaya tradisi/lokal sebagai identitas, inspirasi dan cara menjawab tantangan kehidupan, yang disesuaikan dan dikembangkan dengan tantangan budaya global. (3) Membangun sikap dan perilaku yang berbasis pada nilai-nilai etik dan etos; terciptanya masyarakat yang toleran, demokratis, kreatif, mandiri, dll. (4) Membangun dan menata lingkungan fisik/ geografis berbasis budaya di mana lingkungan dimaknai sebagai oase kultural yang kondusif bagi persemaian, pertumbuhan dan pengembangan nilai-nilai ideal kehidupan, sikap/perilaku, kreativitas warga masyarakat. (5) Menciptakan iklim kreatif yang mendorong warga untuk berkarya, berekspresi secara bermakna, misalnya melalui berbagai aktivitas pendidikan, pelatihan. (6) Menyinergikan potensi-potensi seni, budaya dengan teknologi dan ekonomi, sehingga melahirkan kreativitas yang berkualitas. (7) Membangun/memperkuat basis budaya dengan menumbuhkan, mengembangkan potensi budaya masyarakat, secara personal, kelompok/ paguyuban/komunitas/sanggar dll, kampung harus dipandang sebagai basis kebudayaan masyarakat Yogya. (8) Membangun sinergi yang harmonis antara stakeholders budaya (masyarakat) dengan aktor-aktor birokrasi lokal terkait berbagai inisiasi budaya. (KR, 11-1-2013)