Liputan Khusus

BESEK SEMAKIN TERPINGGIRKAN (3) - Perajin Mencoba Terus Bertahan


cwpel | Minggu, 17 Juni 2012 | 12:20 WIB | Dibaca: 400 | Komentar: 2

Keluarga Mbah Ginem terus membuat besek (Foto : Nur Endah Eka Juniari)

DI  tengah perkembangan zaman dan inovasi wadah makanan, para perajin besek di Dusun Pajangan, Desa Sumber Agung, Kecamatan Moyudan, Kabupaten Sleman tetap bertahan. Mereka berkeyakinan besek menjadi pilihan utama di kalangan warga desa saat selametan atau kenduri sekaligus melestarikan peninggalan budaya ini.

Salah satunya adalah keluarga Gimul (63) dan Ginem (62) yang masih terus menganyam bambu menjadi besek. Sepanjang jalan KR Newsroom menjumpai jemuran ikatan bambu menuju rumahnya. Rumah yang tertutup rimbunan pohon bambu ditinggali bersama dua anak, menantu dan lima orang cucunya. Di depan rumah, Ginem (62) duduk berselonjor. Jemarinya lincah menganyam iratan bambu yang terserak di dekat tempatnya duduk. Tak jauh dari tempatnya bekerja, suami dan salah satu anak lelakinya juga bekerja membuat iratan (sayatan tipis bambu) dari potongan bilah bambu dengan ukuran tertentu.

" Ini untuk pithi atau besek kecil yang ering dipakai untuk tempat jajanan tradisional semacam thiwul, gathot atau geplak. Saya biasa membuat besek berbagai ukuran termasuk tanggung dan besar. Soal bahan baku sampai saat ini tidak ada kendala karena melimpah di seluruh desa ini. Kalau kekurangan diambil dari desa tetangga atau Kabupaten Kulonprogo," ujarnya sambil terus merakit rangkaian bambu kering itu.

Ginem mengaku belajar membuat besek saat berusia 10 tahun dan dalam sepasaran (lima hari) mampu menghasilkan besek aneka ukuran sebanyak tiga kodi (120 besek) dengan harga Rp8-15 ribu per unitnya. Besek buatannya dijual di pasar tradisional atau pemesan khusus. Sedangkan musim kemarau menjadi masa panen para perajin lainnya karena kualitas besek semakin baik dan harganya semakin tinggi. Bahkan, optimistis besek akan terus digunakan selama masi ada tradisi kenduri dan besek lebih berkualitas ketimbang dus.

"Kojur kalau rendheng. Beseknya nayum, nggak laku (Saat musim hujan, besek yang dibuat sering berjamur sehingga tidak laku, red). Saya akant terus membuat besek karena sebagai pekerjaan lain selain bertani. Hasilnya untuk sekolah anak atau kebutuhan sehari-hari. Sambil momong cucu masih bisa disambi membuat besek," imbuhnya.

Sementara itu, Warga Kepanjen, Baguntapan, Kabupaten Bantul, Suminah mengaku membeli besek untuk hantaran acara selamatan pernikahan putrinya dan lebih kuat ketimbang kardus. "Kalau besek lebih kuat. Tapi saya juga tetap pakai kadus, untuk hantaran yang dekat," paparnya.

Secara terpisah, Wakil Ketua Pengembangan Promosi Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Provinsi DIY, Indah Rahayu mengatakan pengrajin anyaman bambu khususnya besek hanya terdapat di Kabupaten Sleman, Bantul dan Gunung Kidul. Para perajin mengalami penurunan penjualan sampai 40 persen akibat melesunya perekonomian nasional dan global. Namun, berusaha memfasilitasi dengan mengajak ikut berpromnosi karena harus bersaing dengan produk lain dengan harga lebih murah.

"Bahan baku kerajinan kita banyak, namun kita masih kalah dengan produksi luar yang menggunakan mesin-mesin berkapasitas massal sedangkan produk kerajinan kita masih mengandalkan pengrajin yang tentunya ongkosnya juga lebih besar daripada mesin," tuturnya.

Kendati demikian Indah mengakui di tengah antusiasme untuk meningkatkan produksi, perajin dihadapkan pada permasalahan klasik mulai dari permodalan, model dan pemasaran. Ketiga kendala ini menjadi fokus utama Dekranasda agar para perajin tetap eksis agar mampu menjangkau seluruh segmen pasar. (KR Newsroom/Fir/Nej/Tri/Tom)