Liputan Khusus

Nama Unik Pembawa Hoki


cwpel | Senin, 30 April 2012 | 15:18 WIB | Dibaca: 14991 | Komentar: 0

Hotel Royal Ambarrukmo (Foto: Fira Nurfiani)

WILLIAM SHAKESPEARE pernah mengungkapkan apalah arti sebuah nama. Namun, tidak sedikit pengusaha yang memilih nama unik demi kelangsungan usahanya. Bahkan, tanpa disadari mendatangkan rezeki sehingga tetap mempertahankan sampai saat ini.

Salah satunya adalah Hotel (Royal) Ambarrukmo yang berada di Jalan Laksda Adisucipto. Tak pelak sampai saat ini menjadilegendaris di Yogyakarta. Menurut Public Relation Royal Ambarrukmo Yogyakarta, Malika Hesty menjelaskan Ambarrukmo berasal dari kata Ambar yang berarti Harum dan Rukmo bermakna emas atau kemuliaan. Hasilnya, hotel ini menjadi legenda dan menjadi landmark di DIY sesuai maknya yang terkandung berarti kemulian yang harum.

Malika menjelaskan pada tahun 1857-1859 digunakan sebagai Pesangragan Arjapura oleh Sultan Hamangkubuwono VI dan pada tahun 1985-1987 dilakukan pemugaran sekaligus alih fungsi menjadi Kedhaton Ambarrukmo oleh Sultan HB VII. Lokasi ini pernah menjadi tempat peristirahatan raja dan keluarga, tempat pertemuan dengan tamu Mangkunegaraan dan Kasusnan Surakara. Bahkan, pernah menjadi kediaman Sultan HB VII setelah turun tahta dan kediaman Permaisuri GKR kencono sampai akhir hayatnya.

"Pada tahun 1931 pernah menjadi Markas Tentara Belanda, Sekolah Kepolisian, Kantor Pemda Sleman, restoran, ramp shops sampai lokasi menggelar resepsi pernikahan. Pada 1996 atas prakarsa Sultan Hamangkubuwono IX menjadi Hotel Ambarrukmo namun ditutup pada tahun 2004. Lalu pada ahun 2011 dibuka kembali  dengan menambahkan kata 'Royal' ditengahnya menjadi Hotel Royal Ambarrukmo," paparnya kepada KRnewsroom, belum lama ini.

Malika menuturkan perubahan nama untuk mengubah kesan menyeramkan dan sakral dengan hunian yang nyaman bagi para tamu. Selain itu, tetap menonjolkan nilai Kraton dengan segudang akivitas seni dan budaya sehingga layak menjadi referensi bagi hotel di dunia.

Chairman Danagung Group, H Rachmat Ali menjelaskan cikal bakal Bank Perkreditan Rakyat (BPR) ini dari Danagung Ramulti yang menggabungkan kata dana dan agung. Sedangkan Ramulti merupakan gabungan dari nama para pendirinya, yaitu Rachmat Ali, Mulyono dan Suhartini. Namun, berharap usaha ini bisa berkembang agung atau besar dengan cara mengelola dana dari masyarakat dengan baik. "Ada makna timbal balik dari kata Agung artinya pengelolaan dana masyarakat, omset dan aset terus meningkat sehingga bisa tetap Agung. Lima tahun berjalan, lahirlah BPR Danagung Bakti, Danagung Sakti yang berganti nama BPR Klaten Sejahtera. Lalu, Danagung Abadi dan Danagung Syariah," ujarnya.

Pemilik Multi Usaha Rezeki, Nana mengaku sengaja memilih nama itu karena menjadi sumber penghidupannya. Tampaknya harapannya berhasil karena memiliki ruko sebagai tempat tinggal sekaligus berusaha. Sampai saat ini sudah memiliki rumah makan, toko pakaian, aksesoris hingga foto studio dengan nama serupa. "Nama Rezeki berarti sumber penghidupan dan tempat tinggal. Saya sempat berkonsultasi dengan ahli fengsuhi dan disarankan membuat pintu utama usaha ke arah sama sesuai data kelahiran. Selain itu, mengarah ke mata angin sesuai sandar fengshui agar tidak menjadi masalah," tandasya.

Pengusaha kue, Ridwan awalnya mengusung nama Sukrilicious yang merupakan singkatan Sukun Bakery Delicious dan akhirnya menjadi Sukri karena saat mendafarkan hak paten kata licious sudah digunakan sehingga ditolak. Sedangkan Sukri yang berarti Sukun Bakery mudah diingat. "Nama boleh ndeso khas Yogya namun rasanya kota. Kami berharap nama unik ini mudah diingat dan membuat semakin penasaran," ujarnya.

Pengusaha desain undangan, Puspita memilih nama Awarna dalam usahanya yang berari cantik seperti bunga dan sebelumnya memberi nama Awanadanda sesuai puteri tercintanya. Menurutnya pemberian nama dalam usaha mutlak dilakukan karena menjadi doa sehingga mampu menghasilkan karya yang cantik. "Awarnadanda sering dikomplain konsumen karena susah disucapkan dan langsung diganti menjadi Awarna saja. Berhubung bergerak dibidang desain, berari warna atau sesuatu yang cantik dalam berkarya," jelasnya.

Perhatikan Fengshui

Suhu Kelenteng Poncowinatan Yogyakarta, Chandra Gunawan masyarakat yang ingin mendirikan tempat usaha harus berdasarkan ilmu fengshui atau hongshui yang berarti arah mata angin atau mengalirnya air. Menurutnya ada 8 penjuru angin di dunia yang sering berganti sesuai kelahiran, kematian dan lokasi usaha. "Fengshui harus dihitung dari angka kelahiran si pemilik yang dicocokkan dengan tempat, waktu, arah dan tata ruang lokasi usaha. Jadi ada hitungan sendiri yang harus dicocokkan dan tidak bisa sembarangan dan tidak terlalu mempermasalahkan nama yang membawa hoki," jelasnya.

Suhu Chandra menjelaskan bila lokasi strategis, ditambah produk sesuai pasar dan layanan prima, maka nama usaha tidak menjadi masalah. Namun, dia memberi saran untuk nama dipilih sesuai pemilih, kota asal pemilik atau nama lain yang bernuansa harapan serta kesuksesan. (KRnewsroom/Fir/Vas/Tom)


ANALISIS

STIW WW