Hikmah Ramadhan

Membayar Zakat Lewat 'Jalan' Yang Benar


cwpel | Kamis, 25 Agustus 2011 | 14:44 WIB | Dibaca: 858 | Komentar: 1

Pemberian zakat diharapkan sampai kepada mereka yang berhak. Foto: Ilustrasi (doc)

DARI Ibnu Umar, ia berkata, "Telah diwajibkan oleh Rasulullah SAW zakat fitrah sebagai pembersih bagi orang berpuasa dan memberi makan orang miskin. Barang siapa yang menunaikan sebelum sholat hari raya, maka zakat itu diterima dan barang siapa membayarnya sesudah sholat, maka zakat itu sebagai sedekah biasa." (HR Abud Dawud dan Ibnu Majah)

Sejak zaman Nabi Muhammad SAW sejarah zakat dicatatkan dengan baik sebagai rujukan bagi para ulama di kemudian hari untuk merumuskan metode pembayaran dan pendistribusian zakat sesuai standar syariat tanpa perlu susah-susah berijtihad (Laa ijtihadama'an nash/ Tidak ada ijtihad untuk sesuatu yang ada dalilnya). Di zaman Nabi SAW seluruh implementasi dana zakat dilaksanakan oleh satu lembaga baitul maal resmi. Sehingga semua kegiatan yang berkaitan dengan pembayaran dana zakat oleh muzaki (pembayar zakat ) ataupun pendataan dan pendistribusian zakat kepada para mustahiq (yang berhak menerima zakat) semuanya melalui satu pintu selalu terpantau (akuntabel).

Di zaman modern tentu masalahnya semakin kompleks karena jumlah manusia berlipat ganda baik dalam kapasitas sebagai pembayar zakat maupun penerima zakat. Dan problem pemetaan distribusi zakat kemudian menjadi lebih rumit dengan banyak bermunculan lembaga-lembaga swata meskipun kita sudah memiliki lembaga bazasnas (Badan Amil Zakat dan Sodakoh Nasional). Plus pada momentum seperti bulan Ramadhan ini, takmir-takmir masjid dan orang-orang kaya yang kemudian ikut memanfaatkan momentum bulan Ramadhan untuk mengeluarkan zakat maal.

Oleh karena semua stakeholder yang ada dalam masyarakat kemudian bergerak dengan pola pikirnya sendiri-sendiri, maka fakta yang muncul kemudian mekanisme pendistribusian zakat itu menjadi kacau balau. Bahkan bermunculan pula para pencari kerja (job seeker) yang mengkhususkan dirinya sebagai penerima zakat di manapun event pembagian zakat tersebut digelar.Sehingga pemandangan memilukan seperti tahun-tahun sebelumnya di mana orang-orang tua, wanita dan anak-anak sampai pingsan terinjak-injak karena harus berdesak-desakan didalam barisan-barisan antrian yang juga umumnya tidak dipersiapkan dengan kepanitiaan yang terlalu baik dengan jumlah panitia yang memadai, tim kesehatan dan lain-lain. Padahal, job seeker zakat itu termasuk perbuatan yang diharamkan, merujuk dalil:

"Barang siapa meminta -minta, sedangkan ia berkecukupan, sesungguhnya ia memperbesar api neraka (siksaan) .. (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban).

Sehingga, memang yang paling ideal distribusi zakat itu melalui proses pemetaan berdasarkan lingkungan dan pengetahuan tentang keadaan mustahiq (yang berhak) nya. Sehingga dana zakat itu benar-benar dapat sampai kepada mereka yang berhak, bukan menjadi pekerjaan musiman bagi para pencari dana zakat tersebut. Atau juga ada orang yang menerima zakat double, sementara ada pula yang benar-benar justru tidak mendapatkannya, sehingga tujuan zakat itu sendiri menjadi tidak tercapai. Semoga di tahun 1432H ini zakat fitrah dan zakat maal dapat terdistribusi dengan sebaik-baiknya untuk kemaslahatan semuanya.   Wallahu A'lamu Bishawwab.                  

(Sumber : Koran Merapi)