Hikmah Ramadhan

Nasyid dan Dakwah Modern


cwpel | Senin, 22 Agustus 2011 | 16:18 WIB | Dibaca: 641 | Komentar: 1

Ilustrasi (Foto: Doc)

PADA masa lalu, kita kenal berbagai kesenian Islam seperti seni rebana, qasidah, barzanji, marawisdan lain-lain, sebagai bagian metode dakwah. Di zaman modern ini ketertarikan remaja terhadap dakwah melalui kegiatan seni makin berkembang dan inovatif. Misal dengan menekuni dunia bercerita (mendongeng) untuk proses dakwah terhadap anak-anak. Ada juga band-band dari jalur musik pop bahkan rock, yang juga memasukkan unsur dakwah (mengajak manusia kepada kebaikan) di dalam lirik -lirik lagunya. Begitu juga dengan band-band yang mengusung musik melayu. Dan tentu juga, bermusik dengan jalur nasyid yang ditandai dengan banyaknya perlombaan-perlombaan nasyid yang mulai melahirkan grup-grup nasyid.

Namun demikian, sebagai sebuah metode di dalam berdakwah, mereka-mereka yang memilih nasyid sebagai metodenya harus tetap memahami konsep dakwah dengan baik dan benar. Ada akhlak dakwah yang tetap harus tercermin, di dalam diri setiap pendakwah. Artinya, meskipun sama-sama melibatkan unsur musik di dalamnya, sikap dan akhlak seorang musisi nasyid harus berbeda dengan sikap seorang musisi dari jalur musik populer lainnya. Seorang musisi nasyid harus dapat menunjukkan akhlakul karimah yang dapat diteladani oleh penggemarnya. Akhlak yang mulia, yang ditunjukkan ketika di atas panggung maupun di dalam kehidupan sehari-hari akan menjadi inspirasi yang baik bagi para penggemarnya.

Oleh karena itu ada begitu banyak hal yang harus diperhatikan dalam bernasyid, jika tujuannya memang untuk berdakwah. Di antaranya, performance baik itu dalam berbusana (rapi dan menutup aurat) dan gerakan-gerakan (koreografi) yang dimunculkan juga tidak berlebihan. Beberapa waktu lalu, saya sempat melihat sekelompok nasyid putri yang bernyanyi dengan menggunakan baju agak ketat yang dipadu dengan menggunakan celana yang juga ketat. Jilbabnya juga ukurannya agak terlalu kecil. Sementara audience yag menonton banyak laki-lakinya. Sehingga dengan busana demikian yang ditonton apakah materi bermusiknya atau justru pakain/ busananya? Entaklah.

Selajutnya yang juga sangat perlu untuk diperhatikan adalah teknik bernyanyi tidak memunculkan syahwat (khususnya bagi penyanyi wanita). Tidak mengeluarkan suara yang mendesah-desah. Kemudian, muatan dkwah yang akan disampaikan harus dangat jelas. Baik di dalam lagu-lagu nasyid, atau pun ketika berkomunikasi diluar itu dengan penonton.

Dan tidak lupa, sebagai sebuah metode dakwah penyanyi nasyid tentu tidak memasang tarif layaknya penyanyi-penyanyi dan band populer yang memasang tarif mahal untuk setiap pementasannya. Di dalam berdakwah, semua proses yang dijalaninya harus ikhlas. Demikian juga dengan sikap yang ditunjukkan dalam berinteraksi di lokasi dakwah. Kelompok nasyid yang datang harus menunjukkan kebutuhan keilmuan juga, sehingga ketika dia datang ke sebuah tempat pengajian maka ikutlah bersama-sama dengan hadirin lainnya dalam menimba ilmu. Semoga ini juga menjadi teladan yang baik bagi para remaja. Semoga bernyanyi nasyid dapat menjadi metode dakwah yang baik.
Wallahu A'lamu Bishawwab.  (Sumber : Koran Merapi)